TOKOH PENDIRI MUHAMMADIYAH dan IDE-IDE PEMIKIRANNYA

25 Nov

LATAR BELAKANG

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

 

  1. KH. Ahmad Dahlan

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Ishaq

Maulana ‘Ainul Yaqin

Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen)

Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom)

Demang Djurung Djuru Sapisan

Demang Djurung Djuru Kapindo

Kiyai Ilyas

Kiyai Murtadla

KH. Muhammad Sulaiman

KH. Abu Bakar

Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan)

Muhammadiyah didirikan oleh seorang bernama Muhammad Darwis, atau lebih kita kenal dengan nama Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan lahir di kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 M. Ayahnya bernama K.H Abubakar, seorang khatib Masjid Gedhe kesultanan Yogyakarta. Ibunya bernama Siti Aminah, putri penghulu kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah(Yunus Salam, 1968: 6):

Muhammmad Darwis tidak sekolah, melainkan belajar mengaji Al-Qur’an dan Dasar-dasar ilmu agama Islam pada ayahnya sendiri. Pada usia delapan tahun ia telah lancar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Selanjutnya ia belajar fiqh kepada K.H Moh. Saleh, dan Nahwu kepada K.H Muhsin, keduanya adalah kakak ipar Darwis. Ia juga berguru pada K.H Muh Nur dan K.H Abd.Hamid dalam berbagai ilmu.

Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia juga belajar kepada K.H Mahfud Termas, K.H Nahrowi Banyumas, K.H Muh Nawawi Banten dan juga kepada para ulama Arab di Masjidil Haram. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Ia juga mendatangi ulama madzab Syafi’i Bakhri Syata’ dan mendapat nama Haji Ahmad Dahlan dari beliau.

Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.  Haji Ahmad Dahlan pulang pada tahun 1891. Sepulangnya dari haji ia dipercaya mengajar santri dewasa sehingga ia dipanggil KH. Ahmad Dahlan. Pada tahun 1896 M, KH, Abubakar wafat jabatan dilimpahkan kepada KH. Ahmad Dahlan dengan gelar Khatib Amin , yang diberi tugas :

  1. Khutbah Jum’ah saling berganti dengan kawannyan delapan orang Khtib
  2. Piket di serambi masjid dengan kawannya enam orang sekali seminggu
  3. Menjadi anggota Raad Agama Islam Hukum Keraton

Usaha pertama yang dilakukan Khatib Amin dalam dakwahnya yaitu beliau ingin menerangkan arah kiblat shalat yang sebenarnya, usaha-usaha awalnya dirintis dengan penyebaran informasi kepada para ulama trerbatas yang telah sepaham di sekitar Kauman itupun memakan waktu hampir setahun. Kemudian hendak mengundang 17 ulama dari luar Yogyakarta untuk memusyawarahkan soal arah kiblat shalat di surau Kkatib Amin KHA. Dahlan mereka dimimta membawa kitab tentan arah kiblat. Musyawarah tersebut berlangsung pada tahun1898 meskipun tidak didapatkan kesepakatan pendapat itu sudah dianggap ada kemajuan positif karena jalannya musyawarah berjalan sopan dan tidak gaduh. Tahun 1898 selam tiga bulan Khatib Amin merenovasi dan memperluas surau peninggalan ayahnya dengan sekaligus dihadapakan ke arah kiblat. Namun banyak orang tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Khatib Amin sehingga surau yang baru diluas dan direnovasi dirobohkan oleh sepuluh orang utusan Kyai Penghulu. Setelah tiga tahun peristiwa tersebut, Khatib Amin tetap menekuni pekerjaan dinasnya maupun mengajar murid-muridnya di surau barunya.

Pada Tahun 1889, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Merasa ilmunya masih kurang Khatib Amin berangkat haji untuk kedua kalinya (1902-1904) yang direkayasa oleh pemerintahan kesultanan. Masalah kiblat masjid besar dan pembongkaran surau Khatib Amin itu merupakan manifestasi pertentangan antara faham islam tradisional dan faham pembaharuan dalam islam. Untuk menghindari ketegangan pemerintah kesultanan mengirim Khatib Amin ke Mekkah selama dua tahun. Ia studi lanjut tentang berbagai ilmu islam kepada para gurunya sewaktu haji pertama dulu, juga kepada yang lain. Dalam hal ini beliau belajar ilmu fikih kepada Syekh Saleh Bafedal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’id Bagusyel ilmu hadist kepada mufti Syafii ilmu Falak kepada Kyai Asy’ari Bawean dan ilmu qiraat kepada Syekh Ali Misri Mekkah. Kecuali itu juga bersahabat akrab dengan para ulama Indonesia yang lama bermukim disana seperti Syeh Ahmad Khatib (Minangkabau), Kyai Nawawi (Banten), Kyai Mas Abdullah (Surabaya), KH.Fakih (Maskumambang) berbagai maslah sosila keagamaan dialami di tanah air dijadikan topic diskusi mereka.

Sepulang dari haji yang kedua ini KHA. Dahlan membangun pondok untuk menampung murid-muridnya yang berasal dari luar kota Yogyakarta dan kota-kota di Jawa Tengah. Para muridnya diberi ilmu falak, tauhid dan tafsir dari Mesir.

 

Memperluas Wawasan

Pekerjaan KHA. Dahlan sebagai Khatib Masjid Besar tidak banyak menyita waktu. Giliran berkhutbahnya rata-rata dua bulan sekali dan piketnya di Serambi Masjid Besar itu hanya seminggu sekali. Karena banyak waktu luang ia gunakan untuk berdagang batik ke kota-kota di Jawa dan diberi modal orang tuanya sebanyak F.500,- namun sebagian uangnya digunakan untuk membeli kitab-kitab islam. Dalam perjalanan dagang ia selalu memerlukan singgah silahturahmi kepada alim setempat, membicarakan perihal agama islam dan masyarakatnya.

Pada tahun 1909 KHA. Dahlan bertamu ke rumah Dr. Wahidin Sudirohusodo di Ketandan, Yogyakarta. Ia menanyakan berbagai hal tentang Budi Utomo dan tujuannya. Setelah mendengar jawaban lengkap dan menurut pikirannya secara umum sesuai dengan cita-citanya, maka ia menyatakan ingin menjadi anggota. Dalam organisasi ini KHA. Dahlan dimohon untuk memberikan santapan rohani islam pada setiap akhir rapat pengurus.

Pada tahun 1910 ia pun menjadi anggota ke 770 perkumpulan Jami’at Khair Jakarta. Yang menarik hatinya selain perkumpulan ini “membangun sekolah-sekolah agama dan bahasa arab serta bergerak dalam bidang social, juga sangat giat membina hubungan dengan pemimpin-pemimpin di Negara-negara Islam yang telah maju. Arti penting KHA. Dahlan memasuki Jami’at Khair ini karena “ialah yang memulai organisasi dengan bentuk modern dalam masyarakat islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat yang berkala), dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah modern.

Ia menyadari bahwa usaha perbaikan masyarakat itu tidak mudah jika dilaksanakan sendirian  jadi harus berorganisasi dan bekerja sama dengan orang lain. Selain di Budi Utomo KHA. Dahlan berkinginan untuk mengajar di Kweekschool Gubernamen Jetis yang dikepalai oleh R. Boediharjo yang juga pengurus dari Budi Utomo. Ia mengajar setiap sabtu sore dengan metode induktif, ilmiah, naqliah dan Tanya jawab dan ternyata sangat menarik minat murid-muri di sana. Dengan pengalaman mengajar di Kweekschoolselam setahun ia terdorong untuk mendirikan sekolah di rumahnya dengan peralatan seadanya. Mula-mula mendapatkan delapan orang murid dan setiap bulan bertambah tiga orang. Pada awal bulan keenam muridnya menjadi duapuluh orang, ia sendiri yang menjadi guru agamanya mengajar pada waktu pagi. Setelah mendapat bantuan guru dari pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta untuk mengajarkan ilmu-ilmu sekolah biasa sekolah tersebut masuk siang pukul 14.00 sampai pukul 16.00. Sejak itu muridnya bertambah sehingga kelasnya harus dipindah ke serambi rumah yang lebih luas. Pada tanggal 1 Desember 1911 sekolah tersebut diresmikan dengan nama Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah berdirinya sekolah tersebut mendapat reaksi kersa dari masyarakat namun KHA. Dahlan hanya membalas dengan senyuman.

Sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri, yaitu :

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

 

  1. Ide-ide Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Pada tahun 1912 K.H Ahmad Dahlan memutuskan untuk mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Ia bermaksud agar gagasan dan pokok-pokok pikiran beliau dapat diwujudkan melalui persyarikatan yang beliau dirikan. Beliau menyadari bahwa gagasan dan pokok-pokok pikiran itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh orang seorang secara sendiri-sendiri termasuk oleh beliau sendiri, tetapi harus oleh sekelompok orang yang menyetujui gagasan dan pokok-pokok pikiran beliau untuk membentuk sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah. Atas dasar ini dapat difahami, kalau apa yang semula merupakan gagasan dan pokok-pokok pikiran pribadi K.H. A.Dahlan itu dikemudian diintegrasikan menjadi gagasan dan pokok-pokok pikiran Muhammadiyah.

Dia memulai oganisasi dengan bentuk modern dengan masyarakat islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala), dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara banyak sedikitnya modern.(Deliar Noer: op.cit). Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa usaha perbaikan masyarakat itu tidak mudah jika dilaksanakan sendrian. Jadi harus berorganisasi bekerjasama dengan orang banyak. Usaha pendidikan itu pada suatu ketika setelah selesai memyampaikan santapan rohani pada rapat pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta, ia menyampaikan keinginan mengajarkan agama islam kepada para siswa Kweekschool Gubernamen Jetis yang dikepalai oleh R.Boediharjo, yang juga menjadin anggota pengurus Budi Utomo. Dan hal ini disetujui, asal diluar pelajaran resmi. (Sosrosugondo, KHA.Dahlan, bapak dan pendiri muhammadiyah, Bag.III Adil No.5o,1939) Pelaksanaanya pada setiap sabtu sore dengan metode induktif, ilmiah, naqliah dan tanya jawab. Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis.

Sesuai dengan pendirin dan sikap K.H A.Dahlan yang lebih suka mewujudkan gagasan dan pokok-pokok pikirannya melalui tindakan nyata daripada melalui pembicaraan dan tulisan, maka pada awal perjalanannya, Muhammadiyah sangat miskin dengan rumusan formal mengenai apa yang menjai gagasan dan pokok-pokok pikiranyang ingin diperjuangkan dan diwujudkan. Rumusan formal yang ada barangkali hanya dijumpai pada Anggaran Dasar atau Statuta Muhammadiyah.

Pada proses perjalanannya, setelah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik secara vertical maupun horizontal, dengan permasalahan dan tantangan yang semakin bertambah berat dan kompleks, maka dirasa perlu pelembagaan gagasan dan pokok-pokok pikiran itu dalam rumusan formal, yang dihasilkan melalui forum-forum permusyawaratan yang bersifat legislasi, seperti Muktamar dan Tanwir.

Secara garis besar, pokok pokok pikiran formal itu dapat dikelompokkan menjadi dua jenis pokok pikiran, yaitu pokok pikiran yang bersifat ideologis dan strategis.

  1. Pokok Pikiran yang bersifat Ideologis

Pokok pokok pikiran yang dapat dikategorikan sebagai pokok pikiran yang bersifat Ideologis, antara lain:

1)      Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah(1951)

2)      Kepribadian Muhammadiyah(1961)

3)      Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah(1969), dan

4)      Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah(2000).

Keempat pokok pikiran yang bersifat Ideologis ini adalah sumber dari prinsip ajaran Islam. Oleh karena itu substansinya bersifat tetap dan tidak berubah. Yang perlu barangkali, adalah melakukan pembaharuan maknanya, sehingga substansi pokok pikkiran itu tetap relevan dan komunikatif sepanjang waktu tanpa mengubah, merevisi, atau mengganti nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya.

 

Pokok Pikiran yang bersifat Strategis

Pokok pokok pikiran yang dapat dikategorikan sebagai pokok pikiran yang bersifat Strategis,adalah berupa Khittah Perjuangan Muhammadiyah,  antara lain:

1)      Langkah Muhammadiyah(1938-1940)

2)      Khittah Muhammadiyah(Khittah Palembang)th 1956-1959

3)      Khittah Ponorogo(1969), Surabaya(1978), dan Ujung Pandang(1971)

4)      Khittah Muhammadiyah dalam berbangsa dan bernegara(2002)

Pokok pokok pikiranyang bersifat strategis yang dalam tradisi Persyarikatan disebut Khitah Perjuangan, ia bersifat dinamis. Artinya Khittah Perjuangan itu dapat diubah, sesuai dengan terjadinya perubahan situasidan kondisi yang dihadapi Muhammadi

 

KESIMPULAN

Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.

Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke Utara.

Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.

Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis.

Pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:

  • Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Drs. H. Hamdan Hambali. 2006. IDEOLOGI DAN STRATEGI MUHAMMADIYAH. Yogyakarta. Suara Muhammadiyah
  2. www.muhammadiyah.go.id

Musthafa Kamal Pasha.2003.Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta. LPPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: