MUHAMMADIYAH

5 Jun
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Mu’allimin _khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).
Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor penyebabnya adalah pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Qur’an dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua, faktor obyektif  di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-’alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.
Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan li al-‘alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia ini. Misi Muhammadiyah adalah:
(1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad saw.
(2) Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.
(3) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.
(4) Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Lihat Tanfidz Keputusan Musyawarah Wilayah ke-39 Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 2005 di Kota Sawahlunto
  LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYAH
     Keinginan dari KH. Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai alat perjuangnan dan da’wah untuk nenegakan amar ma’ruf nahyi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, surat Al-Imron:104 dan surat Al-ma’un sebagai sumber dari gerakan sosial praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid.
Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam Indonesia, sebagai bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara dalam awal bermuatan faham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya umat islam di indonesia memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsif-prinsif ajaran islam, terutama yang berhubuaan dengan prinsif akidah islam yag menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid, bid’ah, dan khurafat. Sehingga pemurnian ajaran menjadi piliha mutlak bagi umat islamm Indonesia.
Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan. Keterbelakangan umat islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir moderen. Kesejarteraan umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika kebodohan masih melengkupi umat islam indonesia.
Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme erofa ke dunia timur yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialalisme dan modernisasi bangsa eropa, selain keinginan untuk memperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk hasil refolusi industeri yang melada erofa.
Imperialisme erofa tidak hanya membonceng grilia gerejawan dan para penginjil untuk menyampaikan ’ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia diseluruh dunia untuk ’mengikuti’ ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin modernisasi yang sedang melanda erofa. Modernisasi yang terhembus melalui model pendidikan barat (belanda) di indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan moernisasi erofa, seperti sekularisme, individualisme, liberalisme dan rasionalisme. Jika penetrasi itu tidak dihentikan maka akan terlahir generasi baru islam yang rasionaltetapi liberal dan sekuler.
Faktir Internal
Faktir internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri yang tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam.
Sikap beragama umat ilam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan sebagai sikapberagama yang rasional. Sirik, taklid, dan bid’ah masih menyelubungai kehidupan umat islam, terutama dalam lingkungan kraton, dimana kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama yang demikian bukanlah terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, teapi merupakan warisan yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad sebelumnya. Seperti diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi oleh dua hal, yaitu Tasawuf/Tarekat dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi memegang peranan yag sangat penting. Melaluii merekalah islam dapat menjangkau daerah-daerah hampir diseluruh nusantara ini.
Faktir eksernal
Factor lain yang melatrbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah factor yang bersifat eksternal yang disebabkan oleh politik penjajaan colonial belanda. Factor tersebut antara lain tanpak dalam system pendidikan colonial serta usaha kearah westrnisasi dan kristenisasi.
Pendidikan colonial dikelola oleh pemerintah kolonia untuk anak-anak bumi putra, ataupun yang diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan financial dari pemerintah belanda. Pendidikan demikian pada awal abad ke 20 telah meyebar dibeberapa kota, sejak dari pendidikan dasar sampai atas, yang terdiri dari lembaga pendidikan guru dan sekolah kejuruan. Adanya lembaga pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan diawal abad 20, yaitu pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial. Kedua jenis pendidikan ini dibedakan, bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari kurikulumnya.
MUHAMMADIYAH DAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH DI BIDANG PENDIDIKAN
Sebagaimana yang dipahami umum, Muhammadiyah dengan seluruh sepak terjangnya itu ’hanyalah’ merupakan konstruksi sosial dari surat Al Ma’un. Oleh sebab itu secara ideologi Muhammadiyah itu adalah Al Ma’unisme. Sehingga warga Muhammadiyah bisa disebut sebagai kaum ”Al Ma’unis”.
Sebagai konsekuensi dari ideologi Al Ma’unisme, maka orientasi ke-Islaman kaum Al Maunis ini menjadi lebih antroposentris dari pada teosentris, dengan berbagai macam implikasinya. Kaum Al Ma’unis lebih eksoteris dalam beragama, lebih empati terhadap masalah-masalah berkaitan dengan ”yang tercipta” daripada ”Sang Pencipta”.
Kiprah Muhammadiyah yang sangat ekstensif di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial adalah konsepsi, formulasi, dan realisasi dari karakter Islam yang terpusat pada ”yang tercipta” tersebut.
Dalam gerakan Muhammadiyah, konsep tentang ”Yatim” dan ”Miskin” dewasa ini belum mengalami perluasan makna. ”Yatim” sebetulnya bukan hanya secara harfiah anak yang sudah tidak memiliki orang tua. Begitu juga konsep miskin tidak sekedar kalangan masyarakat yang tidak berkecukupan dasar secara ekonomis, tetapi juga sosial bahkan spiritual.Awal gerakan Muhammadiyah di bidang pendidikan menemukan momentum sebagai pelopor. Ketika negara dan kelompok masyarakat yang lain belum melakukannya. Namun setelah memasuki satu abad kiprahnya, Muhammadiyah mulai kehilangan kepeloporan itu.
Peran Muhammadiyah di bidang pendidikan mulai diadopsi oleh isntitusi-institusi dan terutama telah diakuisisi oleh negara. Sehingga kiprah Muhammadiyah di bidang pendidikan dewasa ini mengalami kemerosotan yang agak tajam karena gagal melakukan inovasi dalam menghadapi kompetitor-kompetitor yang sebetulnya mereka dulu meniru Muhammadiyah. Kompetitor itu adalah termasuk negara.
Konsep Pendidikan Muhammadiyah
Muhammadiyah diasakan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yokyakarta pada 8 Dzulhijjah
1303 H atau bertepatan dengan 18 November 1912. Muhammadiyah didirikan sebagai
reaksi terhadap kondisi umat Islam Hindia Belanda terutama di Jawa ketika itu berada dalam
keadaan lemah hingga tak mampu menghadapi tanntangan zaman (Ahmad Syafi’i Maarif,
1985). Khusus dalam bidang pendidikan dan pengajaran pondok pesantren yang lebih
menitikberatkan pengembangan “ilmu pengetahuan Islam” yang berorentasi kepada
keakhiratan, sementara pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda lebih
menitikberatkan pada “ilmu pengetahuan umum” yang berorentasi kepada masalah keduniaan
(sekuler)yang di persiapkan untuk membantu memantapkan kekuatan kolonialnya di
Indonesia.
ASAS,CITA-CITA DAN SIFAT PENDIRIAN MUHAMMADIYAH.
            “Muhammadiyah sudah menjadi terkenal tukang membuat kebaikan dan mendirikan kemashalahatan umum, karena menjunjung tinggi perintah ALLAH, meneladani  junjungan Nabi Muhammad SAW” (Al-manak Muhammadiyah tahun 1929-1930, Majelis taman pustaka)
Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah keputusan sidang tanwir menjelang muktamar ke-35 di jakarta dan ke-36 di bandung Muhammadiyah menegaskan: “Muhammadiyah sebagai gerakan islam, bukan dan tidak akan menjadi gerakan partai politik, bergerak di bidang kemasyarakatan, maksud gerakannya adalah da’wah islamiyah, amar ma’ruf nahi munkar di segala bidang, sifat gerakannya adalah pembaharuan, perdamaian, pembibingan, dorongan dan penggembiraan, yang kesemuanya dengan musyawarah atas dasar taqwa serta mengindahkan segala peraturan dan perundang-undangan yang syah”
            Selanjutnya dalam “kepribadian Muhammadiyah” Muhammadiyah memiliki sifat-sifat 10 macam yang intinya:
a.       Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
b.      Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah.
c.       Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran islam.
d.      Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
e.       Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah negara yang syah.
f.       Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan, fdan menjadi contoh tauladan yang baik.
g.      Aktif dalam perkembangan masyarakat dalam maksud perdamaian dan pembangunan sesuai dengan ajaran islam.
h.      Kerjasama dengan golongan islam manapun, juga dalam usaha menyi’arkan dal mengamalkan agama islam serta membela kepentingannya.
i.        Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil makmur yang di ridhoi ALLAH.
j.        Bersifat adil serta korektif kedalam dan keluar dengan bijaksana.
(PP Muhammadiyah)
Maksud dan tujuan Muhammadiyah
Prinsip kembali ke ajaran islam yan murni, berpedoman pada Al-qur’an dan sunnah Rasul saw. Melaksanakan ijtihad dalam perwujudan amal usaha perjuangan islam. Dengan persyarikatan Muhammadiyah sebagai alat dan wadah perjuangan islam, tahun 1912M KHA.Dahlan memberikan ajaran maksud didirikannya Muhammadiyah itu:
1.      Menyebarkan pengajaran Nabi Muhammad saw kepada penduduk.
2.      Memajukan hal-hal agama yang memajukan anggota-anggotanya
Sejarah pergerakan di indonesia mulai hidup, serikat dagang, PSSI, NU, Budi Utomo. Begiu muhammadiyah dikenal masyarakat, begitu muhammadiyah dengan segala amal usahany telah berjalan 17-18 tahun, sesuai dengan asas dan tujuan yang telah ditetapkan dihadapan masyarakat luas yaitu: “ Muhammadiyah menetapi asas dan tujuannya hendak menggembirakan pengajaran agama islam, dan menuntun cara-cara hidup menurut sepanjang kemauanNya, denga tuntunan Nabi, pada Al-qur’annul karim dan hadits Nabi Muhammad, Shollallohu’alaihiwasallam”
KHA.Dahlan wafat tahun 1923 pada periodenya berhasil meletakkan dasar-dasar perjuangan islam, sifat dan nilai karakteristik serta pendirian yang tegas dalam masalah da’wah islam amar ma’ruf nahi munkar. Kegiatan bermasyarakat keagamaan yang praktis. Segala usahanya diliputi keoptimisan ridho dan serta semata-mata mencari ridho ALLAH SWT .
Periode KHA.Dahlan sampai dengan KH.Mas mansur, pendirian teguh gerakan islam muhammadiyah itu sebagai berikut:
a.       Agama islam wajib kita junjung tinggi.
b.      Kita syiarkan dimana-mana.
c.       Ajarkan kepada siapa saja.
d.      Tidak boleh dicegah dan dihalang-halangi.
Sejarah RI telah membuktikan bahwa muhammadiyah telah hidup danbergerak melalui fase-fase penguasa dan pemerintahan baik zaman penjajahan belanda, jepang. Muhammadiyah di zaman jepang nasibnya sebagaimana organisasi yang lain harus taat  dan mau didekte oleh penguasa, sampai maksud dan tujuan Muhammadiyahpun ditentukan oleh penguasa, sebagai berikut:
1.      Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh asia timur raya dibawah pimpinan dai nippon  dan memang  di perintahkan oleh Tuhan ALLAH,  maka perkumpuln ini:
a.       Hendak menyiarka agama islam serta melatih hidup yang selaras dengan tuntunannya.
b.      Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.
2.      Kesemuanya itu ditujukan berjasa mendidik masyarakat ramai.
Pada periode KH.Bagus Hadikusuma, akhir periode dari KH. Mas mansur 1994 sehubungan dengan rumusan maksud dan tujuan muhammadiyah itu, dalam anggaran dasar sampai dengan tahun 1959 dinyatakan maksud dan tujuannya adalah “Menegakkan dan menjunjung tinggi agamaislam sehingga dapat mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya”.
Seperti telah diketahui bahwa muhammadiyah sejak tahun 1950 menetapkan mukktamar tiap tiga tahun sekali, yang zaman dahulu dinamakan konggres. Pada periode KH.Baguus hadikusuma berjalan 3 kali konggres dan sekali bermuktamar yang pertama yaitu tahun 1950 dihitung 31 tempatnya yogyakarta, pada periode AR St Mansur 2 kali bermuktamar yaitu ke 32 di purwokerto th 1953 dan yang ketiga di palembang . uang kemudian periode HM Yunus anies tahun 1959 ber muktamar ke 34 di yogyakarta rumusan maksud dan tujuan ditegaskan:
“menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam,sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya”.
Oleh prof.KH.Farid Ma’ruf yang sejak periode pimpinan kedua sebagai sekertaris pengurus besar, dalam buku “Penjelasan tentang Maksud dan Tujuan Muhammadiyah” bahwa:
Menegakkan artinya:
a.       Mendirikan membangun.
b.      Membuat, menjadikan dan menyebabkan tegak.
c.       Mempertahankan, memperjuangkan cita-cita, memelihara kemerdekaan hukum.
d.      Memegang teguh pendapat, pendirian.
e.       Mempertetap atau memperteguh, memperkukuh hati, semangat.

Entrepreneur Fair 2012

28 Jan

Tema : “Membangun Karakter Bangsa Melalui Entrepreneurship Berbasis Humanitas”

Rangkaian Kegiatan :

a. Lomba Ide Bisnis Kreatif (28 Januari – 28 Februari 2012)
Lomba ide bisnis kreatif ini merupakan lomba pembuatan proposal rencana bisnis kreatif, yang mana rencana bisnis tersebut harus sesuai dengan salahsatu topik yang telah ditetapkan panitia, seperti di bawah ini:
a. Bisnis inovasi pangan bernilai kesehatan
b. Bisnis inovasi teknologi ramah lingkungan
c. Bisnis kreatif berkultur Indonesia

Pengumpulan proposal dimulai pada tanggal 28 Januari 2012 sampai 28 Februari 2012 melalui email: entrepreneurship.imm@gmail.com. Pengumuman pemenang lomba ini akan diumumkan pada saat acara workshop entrepreneurship.

Persyaratan Lomba Ide Bisnis Kreatif :
1. Mahasiswa aktif. Satu proposal dapat terdiri atas perseorangan ataupun kelompok (maksimal 5 orang).
2. Memiliki jiwa leadership, entrepreneurship dan sosial yg tinggi
3. Proposal yang di kirim merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diikut sertakan atau di publish sebelumnya
4. Proposal harus sesuai dengan tema lomba
5. Membayar biaya lomba 100,000/proposal.
6. Mengisi formulir pendaftaran yang dapat di download di https://immfkikumy.wordpress.com// atau http://immfkik.blogspot.com//.
7. Peserta harus mengirimkan hasil karyanya (proposal ide bisnis kreatif) dalam bentuk soft copy (ukuran kertas A4, font: times new roman 12, bentuk file: doc dan pdf) ke email:  entrepreneurship.imm@gmail.com disertai dengan:
• scan kartu mahasiswa aktif
• formulir pendaftaran lomba dan workshop yang sudah diisi lengkap
• scan bukti transfer pembayaran lomba dan workshop
• Foto berwarna 3×4
8. Peserta hanya boleh mengirim 1 proposal saja
9. Semua pesrta lomba diwajibkan mengikuti workshop entrepreneurship pada waktu yang telah ditentukan. Pendaftaran dan biaya workshop dapat dilakukan bersamaan dengan pendaftaran lomba.
10. Setipa karya yang tidak disertai dengan salah satu persyaratan di atas akan digugurkan langsung , saat tahap seleksi pertama sebelum dikirim ke juri
11. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
12. Pengumpulan paling lambat pada tanggal 28 Februari 2012
13. Pengumuman lomba pada saat workshop entrepreneurship. Jika pemenang tidak hadir, maka dianggap gugur.
14. Hal-hal yang ingin ditanyakan, silahkan hubungi ( Dyah : 085747264028) atau via email: http://    entrepreneurship.imm@gmail.com//

Kriteria Pemenang :
1. Proposal yang diikutsertakan dalam lomba sesuai dengan salahsatu tema lomba
2. Memiliki manfaat bagi masyarakat
3. Kreatif dan Inovatif

b. Pameran Entrepreneur (10 – 11 Maret 2012)
Kegiatan ini merupakan ajang pameran dan promosi usaha dari entrepreneur muda yang ada di DIY. Dalam pameran ini para entrepreneur muda akan mempromosikan dan memamerkan tentang bisnis mereka. Diharapkan nantinya dari kegiatan ini dapat mendongkrak motivasi mahasiswa dalam memulai usaha kreatif sehingga bisa membantu memperbaiki perekonomian Indonesia.
Lokasi pameran di lantai dasar gedung AR. Fakhruddin B, kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

c. Workshop Entrepreneurship dan Presentasi Finalis Lomba Ide Bisnis Kreatif (10 – 11 Maret 2012)
Peserta workshop entrepreneurship ini terdiri dari para peserta lomba ide bisnis kreatif dan para mahasiswa (peserta workshop yang tidak mengikuti lomba). Setiap peserta harus mengisi formulir pendaftaran dan dikirim ke email panitia dengan menyertakan scan kartu mahasiswa aktif, foto diri 3×4 dan scan bukti transfer pembayaran biaya workshop.
Biaya pendaftaran workshop sebesar:
i. Bagi peserta workshop yang mengikuti lomba : Rp 75.000,00 per orang
ii. Bagi peserta workshop non lomba : Rp 100.000,00 per orang

Fasilitas peserta:
i. Penginapan ber-AC di University Resident (UNIRES) Putra UMY
ii. Workshop kit
iii. Pemateri workshop : Pemerintah, Pakar, Sosial Entrepreneur, Entrepreneur muda, dan Praktisi.
iv. Makan dan minum (mulai tgl 10 maret 2012 pagi – 11 maret 2012 siang)
v. Ruang workshop full AC
vi. Sertifikat
vii. Hiburan
viii. Dorprise (jika beruntung)

Hadiah Lomba :
1. Juara I : Rp 2.500.000,00 + Trophy
2. Juara II : Rp 2.000.000,00 + Trophy
3. Juara III : Rp 1.500.000,00 + Trophy
4. Juara Harapan : Rp 1.000.000,00
5. Dorprise menarik.

Pembayaran dapat dilakukan melalui:
 Bank Syariah Mandiri a.n. Ukhti Aulia Rakhmah 1557019736. Setelah melakukan pengiriman uang, harap konfirmasi melalui sms atau telepon kepada Sdri. Ukhti Aulia Rakhmah (085227358567)

Dimeriahkan oleh: Team nasyid Tiara and Friend’s, Team Acoustik FKIK UMY, dll.

Info lebih lengkap dapat dilihat di:
1. http://immfkik.blogspot.com//
2. https://immfkikumy.wordpress.com//
3. http://www.facebook.com/pages/entrepreneurship-IMM-UMY//

Segala pertanyaan dapat disampaikan melalui :
1. Email : entrepreneurship.imm@gmail.com
2. CP : Immawati Dyah (085747264028)

Formulir pendaftaran dapat di download di: http://www.mediafire.com/?lvya3pa5mta5sc1

EUTHANASIA

17 Des

2.1.       Definisi Euthanasia dan Perkembangannya

Euthanasia berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu yang berarti indah, bagus, terhormat atau gracefully and with dignity, dan thanatos yang berarti mati. Jadi secara etimologis, euthanasia dapat diartikan sebagai mati dengan baik. Jadi sebenarnya secara harafiah, euthanasia tidak bisa diartikan sebagai suatu pembunuhan atau upaya menghilangkan nyawa seseorang.

Menurut Philo (50-20 SM) euthanasia berarti mati dengan tenang dan baik, sedangkan Suetonis penulis Romawi dalam bukunya yang berjudul Vita Ceasarum mengatakan bahwa euthanasia berarti “mati cepat tanpa derita”. Sejak abad 19 terminologi euthanasia dipakai untuk penghindaran rasa sakit dan peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan dokter.

Euthanasia, yaitu mempercepat proses kematian pada penderita penyakit, yang tidak dapat disembuhkan dengan melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan medis, dengan maksud untuk membantu korban menghindarkan diri dari penderitaan dalam menghadapi kematiannya.[1]

Sedangkan qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia) menurut Dr. Yusuf Qardhawi ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.[2]

Aksi ini dilakukan secara legal menurut undang-undang untuk pertama kali adalah di negara Belanda, negara pertama di dunia yang telah secara hukum menyetujui euthanasia. Meskipun begitu, aksi tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan berbagai perhitungan terlebih dahulu.

 

 

2.2.       Bentuk- Bentuk Euthanasia

Dilihat dari kondisi pasien, tindakan euthanasia bisa dikategorikan menjadi dua macam, yaitu aktif dan pasif. Euthanasia aktif adalah suatu tindakan mempercepat proses kematian, baik dengan memberikan suntikan ataupun melepaskan alat-alat pembantu medika, dan sebagainya, dimana tindakan mempercepat proses kematian di sini adalah jika kondisi pasien, berdasarkan ukuran dan pengalaman medis masih menunjukan adanya harapan hidup. Dengan kata lain, tanda-tanda kehidupan masih terdapat pada penderita ketika tindakan itu dilakukan. Apalagi jika penderita ketika itu masih sadar. Beberapa contoh di antaranya:

1. Seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.

2. Orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama, misalnya karena bagian otaknya terserang penyakit atau bagian kepalanya mengalami benturan yang sangat keras. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat pernapasan, sedangkan dokter berkeyakinan bahwa penderita tidak akan dapat disembuhkan. Alat pernapasan itulah yang memompa udara ke dalam paru-parunya dan menjadikannya dapat bernapas secara otomatis. Jika alat pernapasan tersebut dihentikan, si penderita tidak mungkin dapat melanjutkan pernapasannya. Maka satu-satunya cara yang mungkin dapat dilakukan adalah membiarkan si sakit itu hidup dengan mempergunakan alat pernapasan buatan untuk melanjutkan gerakkehidupannya. Namun, ada yang  menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai “orang mati” yang tidak mampu melakukan aktivitas. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan euthanasia pasif adalah suatu tindakan membiarkan pasien atau penderita yang dalam keadaan tidak sadar (comma), berdasarkan pengalaman maupun ukuran medis sudah tidak ada harapan hidup, atau tanda-tanda kehidupan tidak terdapat lagi padanya, mungkin karena salah satu organ pentingnya sudah rusak atau lemah, seperti bocornya pembuluh darah yang menghubungkan ke otak (stroke) akibat tekanan darah yang terlalu tinggi, tidak berfungsinya jantung dan sebagainya. Kondisi seperti sering disebut dengan “fase antara“,yang dikalangan masyarakat umum diistilahkan dengan “antara hidup dan mati“. Contohnya seperti berikut:

1. Penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada bagian kepalanya atau terkena semacam penyakit pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati –padahal masih ada kemungkinan untuk diobati– akan dapat mematikan penderita. Dalam hal ini, jika pengobatan terhadapnya dihentikan akan dapat mempercepat kematiannya.

2. Seorang anak yang kondisinya sangat buruk karena menderita tashallub al Asyram (kelumpuhan tulang belakang) atau syalal almukhkhi (kelumpuhan otak). Dalam keadaan demikian ia dapat saja dibiarkan –tanpa diberi pengobatan—apabila terserang penyakit paru-paru atau sejenis penyakit otak, yang mungkin akan dapat membawa kematian anak tersebut. At-tashallub al-asyram atau asy-syaukah al-masyquqah ialah kelainan pada tulang belakang yang bisa menyebabkan kelumpuhan pada kedua kaki dan kehilangan kemampuan/control pada kandung kencing dan usus besar. Anak yang menderita penyakit ini senantiasa dalam kondisi lumpuh dan selalu membutuhkan bantuan khusus selama hidupnya. Sedangkan asy-syalal al-mukhkhi (kelumpuhan otak) ialah suatu keadaan yang menimpa saraf otak sejak anak dilahirkan yang menyebabkan keterbelakangan pikiran dan kelumpuhan badannya dengan tingkatan yang berbeda-beda. Anak yang menderita penyakit ini akan lumpuh badan dan pikirannya serta selalu memerlukan bantuan khusus selama hidupnya. Dalam contoh tersebut, “penghentian pengobatan” merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif. Menurut gambaran umum, anak-anak yang menderita penyakit seperti itu tidak berumur panjang, maka menghentikan pengobatan dan mempermudah kematian secara pasif (eutanasia negatif) itu mencegah perpanjangan penderitaan si anak yang sakit atau kedua orang tuanya.

 

    

2.3.       Euthanasia dalam Kode Etik Kedokteran dan KUHP

Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan: “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sunguh-sunguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.” Berdasarkan pasal ini, seorang dokter bisa dituntut oleh penegak hukum, apabila ia melakukan euthanasia, walaupun atas permintaan pasien dan keluarga yang bersangkutan, karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum.

Hanya saja isi pasal 344 KUHP itu masih mengandung masalah. Sebagai terlihat pada pasal itu, bahwa permintaan menghilangkan nyawa itu harus disebut dengan nyata dan sungguh-sungguh. Maka bagaimanakah pasien yang sakit jiwa, anak-anak, atau penderita yang sedang comma. Mereka itu tidaklah mungkin membuat pernyataan secara tertulis sebagai tanda bukti sungguh-sungguh. Sekiranya euthanasia dilakukan juga, mungkin saja dokter atau keluarga terlepas dari tuntutan pasal 344 itu, tetapi ia tidak bias melepaskan diri dari tuntutan pasal 388 yang berbunyi: “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun.” Dokter melakukan tindakan euthanasia (aktif khususnya), bisa diberhantikan dari jabatannya, karena melanggar etik kedokteran.

Di dalam Kode Etik Kedokteran yang ditetapkan Mentri Kesehatan Nomor: 434/Men.Kes./SK/X/1983 disebutkan pada pasal 10: “Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani.” Kemudian di dalam penjelasan pasal 10 itu dengan tegas disebutkan bahwa naluri yang kuat pada setiap makhluk yang bernyawa, termasuk manusia ialah mempertahankan hidupnya. Usaha untuk itu merupakan tugas seorang dokter. Dokter harus berusaha memelihara dan mempertahankan hidup makhluk insani, berarti bahwa baik menurut agama dan undang-undang Negara, maupun menurut Etika Kedokteran, seorang dokter tidak dibolehkan:

a.   Menggugurkan kandungan (abortus provocatus).

b. Mengakhiri hidup seseorang penderita, yang menurut ilmu dan pengalaman tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).

Jadi sangat tegas, para dokter di Indinesia dilarang melakukan euthanasia. Di dalam kode etika itu tersirat suatu pengertian, bahwa seorang dokter harus mengerahkan segala kepandaiannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan memelihara hidup manusia (pasien), tetapi tidak untuk mengakhirinya.[3]

 

2.4.       Konsep dan Kriteria Kematian

Dahulu mungkin dikatakan mati jika dilihat tidak bernafas (bisa saja dia mati suri), kemudian ukuran ini berubah dengan tidak berfungsinya jantung atau gerak nadi. Kemudian diketahui bahwa jantungpun ternyata digerakkan oleh pusat saraf penggerak yang terletak pada bagian batang otak di kepala. Makanya Prof. Dr. Mahar Mardjono (eks Rektor UI) dan para ahli kedokteran sepakat bahwa yang menjadi patokan dalam menentukan kematian adalah batang otak. Jika batang otak betul-betul sudah mati harapan hidup seseorang sudah terputus.

Menurut dr.Yusuf Misbach (ahli saraf), terdapat dua macam kematian otak, yaitu kematian korteks otak yang merupakan pusat kegiatan intelektual, dan kematian batang otak, kerusakan pada batang otak lebih fatal, karena di bagian itulah terdapat pusat saraf penggerak yang merupakan motor semua saraf tubuh, hal ini juga dikemukakan oleh dr. Kartono Muhammad (Wakil Ketua IDI). Ia mengatakan bahwa seseorang dianggap mati apabila batang otak yang menggerakkan jantung dan paru-paru tidak berfungsi lagi. Tegasnya batang otak merupakan pedoman untuk mengetahui masih hidup atau sudah matinya seseorang yang sudah tidak sadar.

Untuk menentukan kerusakan otak pada maunusia menurut Prof.Dr. Mahar Mardjono (eks Rektor UI) tidak terlalu sulit bagi rumah sakit yang tidak ada alat electro encefalograf (EEG), bisa juga dengan menggunakan alat detektor otak, maka cukup dengan mengetes refleksi kornea mata, apabila pupil (anak mata) masih memberi reaksi terhadap cahaya. Bisa juga dengan memeriksa refleks vestibula ocular (meneteskan 20 cc air es ke telinga kiri dan kanan, kemudian memeriksa reaksi motoriknya pada mata).[4]

 

2.5.       Hukum Euthanasia Menurut Islam

Euthanasia merupakan suatu persoalan yang dilematik baik di kalangan dokter, praktisi hukum, maupun kalangan agamawan. Di Indonesia masalah ini juga pernah dibicarakan, seperti yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam seminarnya pada tahun 1985 yang melibatkan para ahli kedokteran, ahli hukum positif dan ahli hukum Islam, akan tetapi hasilnya masih belum ada kesepakaran yang bulat terhadap masalah tersebut. Demikian juga dari sudut pandang agama, ada sebagian yang membolehkan dan ada sebagian yang melarang terhadap tindakan euthanasia, tentunya dengan berbagai argumen atau alasan. Dalam Debat Publik Forum No 19 Tahun 1V, 1 Januari 1996, Ketua Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof. KH. Ibrahim Husein menyatakan bahwa, Islam membolehkan penderita AIDS diethanasia jika memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Obat atau vaksin tidak ada.

2. Kondisi kesehatannya makin parah.

3. Atas permintaannya dan atau keluarganya serta atas persetujuan dokter.

4. Adanya peraturan perundang-undangan yang mengizinkannya.

Masjfuk Zuhdi mengatakan bahwa sekalipun obat atau vaksin untuk HIV/AIDS tidak atau belum ada dan kondisi pasien makin parah tetap tidak boleh di euthanasia sebab hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Pendapat tersebut merujuk pada firman Allah dalam Surat Al-Mulk ayat 2:

…………………………………………………………

”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”[5]

Tetapi pengalaman juga menunjukkan bahwa pada saat-saat ketika hal- hal yang tidak secara tegas dilarang dalam kitab-kitab suci dan dinyatakan terlarang menurut pandangan pemuka agama, suatu saat dapat berubah. Pro kontra terhadap tindakan euthanasia hingga saat ini masih terus berlangsung. Mengingat euthanasia merupakan suatu persoalan yang rumit dan memerlukan kejelasan dalam kehidupan masyarakat, khususnya bagi umat Islam. Maka Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam pengkajian (muzakarah) yang diselenggarakan pada bulan Juni 1997 di Jakarta yang menyimpulkan bahwa euthanasia merupakan suatu tindakan bunuh diri.[6]

Solusi bagi pasien yang putus asa dari kesembuhan sehingga ingin bunuh diri atau euthanasia adalah, ia menyadari akan kelemahan imannya, sebab sakit

adalah satu bentuk ujian kesabaran. Jika ingin euthanasia dengan permintaan sendiri maka Allah mengancamnya melalui hadis Nabi yang artinya : “Barang siapa mencekik lehernya, ia akan mencekik lehernya pula dalam neraka. Dan siapa menikam dirinya, maka ia menikam dirinya pula dalam api neraka” (H.R. Bukhari).

Jika pihak keluarga merasa kasihan pada pasien atau tidak sanggup dengan biaya perawatan maka mereka memutuskan untuk euthanasia aktif sementara si pasien masih ada tanda-tanda kehidupan (belum

mati batang otaknya), maka si pelaku euthanasia dan keluarga pemberi izin, tergolong pembunuhan disengaja dan pelaku jarimah (akan kena hukuman). Hal ini diancam Allah dalam firmannya yang artinya: “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya

ialah neraka Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (Q.S. an- Nisa` : 93).

Jika keluarganya ingin pasien di euthansia dengan tujuan agar cepat memperoleh harta warisan, dalam KUHP merupakan tindakan pembunuhan direncanakan dan diancam hukuman. Sementara dalam ajaran Islam, orang yang membunuh tidak akan mendapatkan wasisan dari orang yang dibunuhnya itu, jika ia merupakan salah satu ahli warisnya.

Tapi para ulama sepakat dan begitu juga dikalangan kedokteran bahwa euthanasia pasif atau negative dibolehkan, yakni tanpa memberikan pengobatan bagi pasien karena tidak mampu atau memang pasrah dengan keadan yang tak tau kepastiannya, hanya menunggu kekuasaan Allah. Tidak boleh menginginkan mati, sesuai dengan hadis nabi yang artinya: “Dari Abu Hurairah ra. bersabda Rasulullah saw, janganlah ada seseorangdari kamu yang mengiginkan mati. Kalau ia baik (orang yang sakit itu) mungkin akan bertambah kebaikannya, dan kalau ia jahat mungkin ia bias bertaubat” (H.R. Bukhari Muslim).[7]

Begitu juga menurut Dr. Yusuf Qardhawi,  memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) tidak diperkenankan oleh syara’. Sebab yang demikian itu berarti dokter melakukan tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis. Maka dalam hal ini, dokter telah melakukan pembunuhan, baik dengan cara seperti tersebut dalam contoh, dengan pemberian racun yang keras, dengan penyengatan listrik, ataupun dengan menggunakan senjata tajam. Semua itu termasuk pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan. Perbuatan demikian itu tidak dapat lepas dari kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Dzat Yang Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta’ala, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.

 

Pengobatan atau berobat hukumnya mustahab atau wajib apabila penderita dapat diharapkan kesembuhannya. Sedangkan jika sudah tidak ada harapan sembuh, sesuai dengan sunnah Allah dalam hukum sebab-akibat yang diketahui dan dimengerti oleh para ahlinya –yaitu para dokter—maka tidak ada seorang pun yang mengatakan mustahab berobat, apalagi wajib. Apabila penderita sakit diberi berbagai macam cara pengobatan –dengan cara meminum obat, suntikan, diberi makan glukose dan sebagainya, atau menggunakan alat pernapasan buatan dan lainnya sesuai dengan penemuan ilmu kedokteran modern– dalam waktu yang cukup lama, tetapi penyakitnya tetap saja tidak ada perubahan,  maka melanjutkan pengobatannya itu tidak wajib dan tidak mustahab, bahkan mungkin kebalikannya (yakni tidak mengobatinya) itulah yang wajib atau mustahab.

Maka memudahkan proses kematian (taisir al-maut) –kalau boleh diistilahkan demikian– semacam ini tidak seyogyanya diembel-embeli dengan istilah qatl ar-rahmah (membunuh karena kasih sayang), karena dalam kasus ini tidak didapati tindakan aktif dari dokter. Tetapi dokter hanya meninggalkan sesuatu yang tidak wajib dan tidak sunnah, sehingga tidak dikenai sanksi. Jika demikian, tindakan pasif ini adalah jaiz dan dibenarkan syara’, bila keluarga penderita mengizinkannya dan dokter diperbolehkan melakukannya untuk meringankan si sakit dan keluarganya, insya Allah.[8]


[1] Petrus Yoyo Karyadi, Euthanasia dalam Perspektif Hak Azasi Manusia, Yogyakarta: Media Pressindo, 2001, hal. 28.

[2] Fatwa- Fatwa Kontemporer Yusuf Qardhawi, Bab Euthanasia.

[3] Problematika Hukum Islam Kontemporer oleh: Fauzi Aseri.

[4] “Euthanasia dalam Perspektif Islam” oleh: Ramadhan Syahmedi Siregar, S.Ag, MA.

 

[5] Mushaf Al-Qur’an terjemah.2002. Al-Huda. Kelompok Gema Islami

[6] Fauzi Aseri, Akhmad. 2002. Problematika Hukum Islam Kontemporer.

[7] Artikel “Euthanasia dalam Perspektif Islam” oleh: RAMADHAN SYAHMEDI SIREGAR, S.Ag, MA. Diambil dari: http://www.usu.ac.id

[8] Fatwa-fatwa Kontemporer Dr. Yusuf Qardhawi Gema Insani Press, bab  Euthanasia hal: 219 – 225 .

 

IDEOLOGI MUHAMMADIYAH

17 Des

Pengertian Ideologi

Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu. Pengertian ideology secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan, pandangan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normative yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi.

Adapun pengertian Ideologi menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

  1. Destut De Traacy

Istilah ideology pertama kali dikemukakan oleh destut de Tracy tahun 1796 yang berarti suatu program yang diharapkan dapat membawa suatu perubahan institusional dalam masyarakat Perancis.

  1. Lyman Tower Sargent

Ideologi adalah sebuah sistem nilai atau kepercayaan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh beberapa kelompok

  1. M. Djindar Tamimy (Allahuyarham)

Ajaran atau ilmu pengetahuan yang secara sistematis dan menyeluruh membahas mengenai gagasan, cara-cara, angan-angan (baca: cita-cita–Penulis) atau gambaran dalam pikiran, untuk mendapatkan keyakinan mengenai hidup dan kehidupan yang benar dan tepat; berarti pula keyakinan hidup.

2.2.      Landasan Normatif Ideologi Muhammadiyah

Adapun landasan normatif ideologi Muhammadiyah adalah berlandaskan pada Al Qur’an:

  1. QS. Al Imron: 104

Yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung.

  1. QS. Al Imron: 110

Yang artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

 

2.3.      Fungsi Ideologi Muhammadiyah

Adapun fungsi Ideologi Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

  1. Menjelaskan dan menanamkan “Islam agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”
  2. Membangun komitmen idealisme untuk menjalankan misi dan cita-cita gerakan
  3. Mengikat solidaritas kolektif yang kokoh
  4. Membela/ menjaga/ mempertahankan keutuhan organisasi sesuai prinsip gerakan

2.4.      Tiga Point Penting Ideologi Gerakan Muhammadiyah

Pertama, pembahasan ideologi/keyakinan hidup mencakup 3 bidang yaitu: Pandangan hidup; Tujuan hidup; Ajaran dan cara yang dipergunakan untuk melaksanakan pandangan hidup dalam mencapai tujuan hidup tersebut.

Kedua, ideologi/keyakinan hidup Muhammadiyah adalah berdasarkan dan bersumberkan ajaran-ajaran Islam.

Ketiga, ideologi/keyakinan hidup adalah hasil ciptaan (akal pikiran) manusia, yang pada dasarnya merupakan prinsip-prinsip yang mempunyai sifat tetap/tidak mudah berubah; sedangkan ajaran Islam yang menjadi dasar dan sumber ideologi/keyakinan hidup Muhammadiyah adalah wahyu Allah yang bersifat abadi/tidak berubah-ubah.

2.5.      Enam Dimensi Ideologi Gerakan Muhammadiyah

Adapun dimensi Ideologi gerakan Muhammadiyah telah dirumuskan oleh Bpk. Haedar Nashir,  sebagai berikut:

  1. Ideologi gerakan Muhammadiyah merupakan sistem paham dan teori perjuangan yang dilandasi, dijiwai, dan dibingkai serta dimaksudkan untuk mengamalkan Islam dalam seluruh kehidupan umat manusia.
  2. Ideologi gerakan Muhammadiyah ialah manhaj (sistem, metode) dakwah Islam untuk mengajak manusia beriman kepada Allah (tu’minuna billah) serta amar ma`ruf nahi munkar.
  3. Ideologi gerakan Muhammadiyah ialah sistem dan teori perjuangan Islam untuk tajdid (pembaruan) sehingga selalu terbuka pada kritik dan memiliki agenda perubahan ke arah kemajuan (ishlah).
  4. Ideologi gerakan Muhammadiyah memiliki kerangka pemikiran dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan pemikiran-pemikiran formal lainnya dalam Sistem Keyakinan dan Hidup Islami dalam Muhammadiyah.
  5. Ideologi gerakan Muhammadiyah merupakan teori dan strategi perjuangan Islam yang menyeluruh dan mencakup seluruh aspek kehidupan untuk mewujudkan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
  6. Ideologi gerakan Muhammadiyah merupakan tali pengikat gerakan yang diwujudkan dalam sistem organisasi, jama`ah, kepemimpinan, dan gerakan amal usaha untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil`alamin di muka bumi ini.

2.6.      Ideologi Global Muhammadiyah

2.6.1.   Muhammadiyah dan Agama

Ideologi Muhammadiyah tentang agama telah dijelaskan dalam Matan Keyakinan dan Cita- Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM) yang intinya adalah sebagai berikut: Muhammadiyah berkeyakinan, bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad saw., sebagai hidayat dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan materiil dan spirituil duniawi dan ukhrawi.

Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan :

  1. Al-Qur’an : Kitab Allah yang diwahyukan kepada NabiMuhammad saw.
  2. Sunnah Rasul : Penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang diberikan oleh nabi Muhammad saw dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

Dengan kata lain, Muhammadiyah berpedoman pada prinsip purifikasi dan dinamisasi dalam memahami agama Islam.
Muhammadiyah juga bekerja untuk terlaksananya ajaran- ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: aqidah,  akhlak, ibadah dan mu’amalat duniawiyat.

Dalam hal aqidah secara global dan secara mendasar, Muhammadiyah merujuk pada Al Qur’an surah Al Ikhlas: 1-4 dan QS. Al Furqon: 63-77. Sedangkan dalam bidang akhlaq, merujuk pada QS. Al Qalam: 4, QS. Al Ahzab: 21, dan QS. Al Bayyinah: 5.

Dalam bidang ibadah, Muhammadiyah berdasarkan firman Allah SWT pada QS. Asy Syam:5-8, QS. Ali Imron: 114 dan QS Al Ashr: 3. Sedangkan dalam bidang mu’amalah duniawiyah merujuk pada QS. Al Baqarah: 30, QS. Shad: 27, QS. Ali Imron: 112 dan 142, QS. Al Insyiroh: 5-8  dan QS Al Qashas: 77.

 

 

2.6.2.   Muhammadiyah dan Keummatan

Pada tahap awal pertumbuhannya, Muhammadiyah tidak membangun kongsi- kongsi dagang, tetapi membangun sekolah sebanyak mungkin. Pertimbangannya sangat jelas yakni kebodohan telah menjadi musuh terbesar umat Islam dan mustahil umat Islam dapat membangun masa depan yang lebih baik bilamana kebodohan dan keterbelakangan tetap saja melekat lengket dalam kehidupan umat Islam.

Olehkarena itulah Muhammadiyah dalam hal keummatan mempunyai doktrin yaitu enlightenment atau pencerahan ummat Islam. Lewat doktrin tersebut, Muhammadiyah merintis sekolah umum sebanyak- banyaknya, tidak hanya pesantren saja. Menarik untuk diingat anjuran tokoh- tokoh Muhammadiyah agar ZIS (zakat, Infaq dan Shodaqoh) tidak saja disalurkan ke masjid, tetapi kalau perlu lebih banyak disalurkan ke lembaga pendidikan.

Alasannya jelas, yakni umat Islam yang berjubel memadati masjid tidak akan pernah dapat berangkat jauh bila mereka tetap terbelenggu dalam kebodohan dan keterbelakangan. Umat Islam yang bodoh, demikian keprihatinan para tokoh Muhammadiyah sejak dulu, dapat berubah posisi dari mayoritas kuantitatif menjadi mayoritas kualitattif.

Dalam mencerdaskan dan mencerahkan umat, Muhammadiyah menempuh tiga proses pendidikan sekaligus, yakni ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Ta’lim yaitu berusaha mencerdaskan otak manusia. Tarbiyah yaitu mendidik perilaku yang benar. Sedangkan ta’dib yaitu memperhalus adab kesopanan. Dengan kata lain, Muhammadiyah mencoba memasukkan nilai- nilai ke-Islaman dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Pada saat ini, bila kita perhatikan, hasil usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan relatif telah memuaskan. Santri bukan lagi mengandung seseorang yang lemah, bodoh, sarungan, berwawasan sempit, serta mudah dipecundangi, tetapi sebaliknya, santri adalah sosok manusia beragama, yang makin cerdas, dan kritis, menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi, berwawasan luas dan sangat yakin diri. ICMI barangkali adalah salahsatu gambaran santri modern, dan samapai batas tertentu, konstribusi Muhammadiyah dalam mengubah citra santri lewat proses pencerahan itu tidak dapat diabaikan.

Adapun dasar Muhammadiyah dalam bidang ini adalah merujuk pada firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah At Taubah: 122, QS. An Nahl: 43, Al Qashas: 77, QS. Al Mujadilah: 11, QS. Al Baqarah: 197, QS. Ali Imron: 190-191, QS. Al Maidah: 100, Ar Ra’d: 19-20, QS. Al Isro’: 36 dan QS. Az Zumar: 18.

 

2.6.3.   Muhammadiyah dan Sosial

Pada masa awal berdirinya Muhammadiyah, salahsatu cita- cita KHA. Dahlan dalam mendirikan organisasi Muhammadiyah adalah untuk merentas masalah sosial pada masyarakat Indonesia, salahsatunya adalah kemiskinan. Hal ini dapat disimpulkan dari kenyataan bahwa KHA. Dahlan mengajarkan dalam setiap forum pengajian, surat Al Ma’un sampai para pendengarnya merasa bosan sampai surat Al Ma’un itu mulai dipraktekkan dalam kenyataan oleh para anggota dan simpatisan Muhammadiyah.

Bila dipadatkan dalam empat buah istilah, cita- cita sosial Muhammadiyah berkisar pada ukhuwah, hurriyah, musawah, dan ‘adaalah (persaudaraan, kemerdekaan, persamaan, dan keadilan). Seperti sabda Rasulullah Saw, tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (ukhuwah). Didunia ini manusia bebas merdeka untuk memilih jalan hidupnya namun ia akan bertanggungjawab sepenuhnya di hadapan Allah (hurriyah). Sedangkan musawah berarti bahwa manusia punya kesamaan derajat dengan manusia lain sehingga tidak boleh ada eksploitasi atas manusia, karena memang tidak ada hubungan antar manusia yang berdasarkan inferioritas dan superioritas tertentu.

Sementara itu keadilan dalam arti luas menjadi pondasi paling dalam untuk tegaknya persaudaraan, kemerdekaan, dan persamaan di atas. Demikian mendasarnya keadilan ini dalam Islam, sehingga orang luar seringkali menyebut Islam sebagai religionof justice. Keadilan dalam Islam bersifat komprehensif (menyeluruh), yaitu meliputi kehidupan sosial, hukum, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Muhammadiyah dalam prakteknya guna mencapai cita- cita sosial tersebut diatas, dapat kita liat melalui amal usaha Muhammadiyah antara lain: PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang saat ini disebut juga Pusat Kesehatan Umat, PAYM (Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah), LAZISMU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah), amal usaha pendidikan dan PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah). Melalui bidang pendidikan ini pulalah Muhammadiyah ingin mencetak ahli- ahli kesehatan, ahli hukum, pakar ekonom, dan lain sebagainya. Seperti pesan dari KHA. Dahlan, pendiri Muhammadiyah, “Jadilah engkau dokter, guru, insyinyur, dll, dan kembalilah ke Muhammadiyah”.

Adapun dasar Muhammadiyah dalam bidang ini adalah merujuk pada firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Al Ma’uun: 1-7, QS. Ali Imron: 104 dan 110, QS. An Nisa’: 58,  QS. Al Anfal: 27, dan QS. Ibrahim: 7.

 

2.6.4.   Muhammadiyah dan Politik Kebangsaan

Dalam mencapai cita- cita perjuangan untuk membangun masyarakat utama yang diridhoi Allah SWT, Muhammadiyah menghindari kegiatan politik kenegaraan atau politik praktis. Sebagaimana sejak didirikannya, Muhammadiyah tidak melakukan perjuangan politik praktis untuk meraih kekuasaan di ranah negara sebagaimana halnya partai politik.

Muhammadiyah dengan menggariskan Khittahnya sebenarnya ingin menegaskan bahwa politik tidak dapat dihimpitkan dengan dakwah. Demikian pula partai politik tidak dapat disatu-paketkan dengan organisasi dakwah. Penghimpitan dan penyatuan politik dan dakwah sekilas tampak ideal dan akan menghasilkan buah perjuangan yang positif tetapi jangka panjang justru mengandung banyak masalah dan bom waktu konflik keagamaan sekaligus konflik politik.

Olehkarena itu, Muhammadiyah merumuskan dan melahirkan konsep kepribadian Muhammadiyah pada tahun 1962. Salahsatu latar belakangnya, agar cara- cara dan karakter perjuangan politik tidak masuk ke tubuh Muhammadiyah, serta Muhammadiyah lebih dapat berkonsentrasi pada gerakan dakwah. Biarlah Muhammadiyah memfokuskan diri mengurus dakwah dan tajdid di ranah masyarakat, sedangkan perjuangan politik kenegaraan secara terfokus pula dilakukan oleh partai politik.

Muhammadiyah juga telah menetapkan kebijakan mengenai larangan rangkap jabatan tertentu antara jabatan- jabatan penting di Persyarikatan dengan jabatan- jabatan penting di partai Politik. Kebijakan Muhammadiyah tersebut tidak lain untuk membingkai gerakan Muhammadiyah agar tetap dalam koridornya sebagai gerakan Islam yang berkiprah di lapangan dakwah kemasyarakatan yang tidak berpolitik praktis di ranah perjuangan kekuasaan Negara.

   Muhammmadiyah memiliki Pedoman Hidup Islami dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Selain Khittah Ujung Pandang dan Denpasar, Muhammadiyah juga merumuskan pedoman sebagai acuan bagi tingkahlaku (mode for behavior) atau lebih konkret lagi acuan bagi tindakan (mode for action) yang membingkai dan mengikat setiap anggota dalam kehidupan  poitik. Pedoman berpolitik (berbangsa dan bernegara) tersebut merupakan bagian dari seluruh acuan Muhammadiyah yang terkandung dalam Pedoman HIDUP Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang diputuskan dalam Muktamar ke-44 tahun 2000 di Jakarta. Kandungan isi dari Pedoman Hidup Islami dalam Berbangsa dan Bernegara tersebut sebagai berikut:

Kehidupan dalam berbangsa dan bernegara

1)      Warga Muhammadiyah perlu mengambil bagian dan tidak boleh apatis (masa bodoh) dalam kehidupan politik melalui berbagai saluran secara positif sebagai wujud bermuamalah sebagaimana dalam bidang kehidupan lain dengan prinsip-prinsip etika /akhlaq Islam dengan sebaik-baiknya dengan tujuan membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

2)      Beberapa prinsip dalam berpolitik harus ditegakkan dengan sejujur-jujurnya dan sesungguh-sesungguhnya yaitu menunaikan manat (Q.S An-Nisa / 4 :5) dan tidak boleh menghianati amanah ( Q.S. An-Nisa / 4 : 58), menegakkan keadilan, hukum, dan kebenaran (Q.S. Al-Anfal / 8: 27), ketaatan kepada pemimpin sejauh sejalan dengan perintah Allah dan Rasul (Q.S An-Nisa / 4 : 58), mengemban risalah Islam (Q.S Al-Anbiya / 21 :107), menunaikan amar ma’ruf, nahi munkar, dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah (Q.S Ali Imran /3:104,110), mempedomani Al-Qur’an dan Sunnah (Q.S An-Nisa /4: 108), mementingkn kesatuan dan persaudaraan umat manusia (Q.S An-Nisa/ 4: 108), menghormati kebebasan orang lain (Q.S. Al-Hujarat/49:13), menjauhi fitnah dan kerusakan (Q.S. Al-Balad/90:13) menghormati hak hidup orang lain (Q.S. Al-An’am/ 6: 151), tidak berkhianat dan melakukan kezaliman (Q.S. Al-Furqan/ 25:19, Al-Anfal/ 8:27), tidak mengambil hak orang lain (Q.S. Al-Maidah/5: 38), berlomba dalam kebaikan (Q.S. Al-Baqarah/ 2:148), bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak bekerja sama (konspirasi) dalam melakukan dosa dan permusuhan (Q.S.Al-Midah/ 5: 2), memelihara hubungan baik antara pemimpin dan warga (Q.S. An-Nisa/ 4: 57-58), memelihara keselamatan umum (Q.S. At-Tubah/ 9:18), hidup berdmpingan dengan baik dan damai (Q.S. Ali Imran/3:104, Al- Qashsash/ 28:77), tidak melakukan fasad dan kemungkaran (Q.S. Ali Imran/ 3: 104, Al-Qashash/ 28:77), mementingkan ukhwah Islamiyah (Q.S. Ali Imran/3: 103), dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan dan isalah.

3)      Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan islah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentingan diri sendiri dan kelompok yang sempit.

4)      Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri (uswah hasanah) yang jujur, benar, dan adil serta menjauhkan diri dari perilku politik yang kotor, membawa fitnah fasad (kerusakan), dan hanya mementingkan diri sendiri.

5)      Berpolitik dengan kesalehan, sikap positif, dan memiliki cita-cita bagi terwujudnya masyarakt Islam yang sebenar-benarnya dengan fungsi amar ma’ruf dan nahi munkar yang tersisitem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh.

6)      Menggalang silaturrahmi dan ukhwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh politisi Muhammadiyah secara cerdas dan dewasa.

Adapun kebijakan larangan rangkap jabatan, pimpinan pusat Muhammadiyah telah memberlakukannya sebagaimana ditetapkan dalam Khittah Ujung Pandang tahun 1971, yang beberapa kali diperbaiki dan disempurnakan oleh PP. Muhammadiyah. Dengan kata lain bukan merupakan kebijakan yang baru dan selama ini telah terbukti berlaku secara efktif di lingkungan Muhammadiyah. Dalam prakteknya karena situasi dan pertimbangan khusus terkadang ada keringanan tertentu yakni memperoleh izin kepada PP. Muhammadiyah untuk diperbolehkan merangkap jabatan tetapi sifatnya terbatas dan benar- benar diperlukan. Namun tidak sampai ada penolakan terhadap kebijakan Muhammadiyah tersebut.

Kebijakan Muhammadiyah tersebut terkandung dalam Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 101/KEP/I.0/B/2007 tentang Ketentuan Jabatan di Lingkungan Persyarikatan yang Tidak Dapat Dirangkap dengan Jabatan Lain yang dikeluarkan tanggal 15 Rajab 1428 H bertepatan dengan 30 Juli 2007 M.

 

2.6.5.   Muhammadiyah dan Seni Budaya

   Muhammadiyah memandang bahwa Islam adalah agana fitrah, yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Islam bahkan mengatur dan mengarahkan fitrah manusia itu untuk kemuliaan dan kehormatan manusia sebagai makhluk Allah SWT.

Rasa seni merupakan penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia yang harus dipelihara dan disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa dan ajaran Islam.

Berdasarkan keputusan Munas Tarjih ke-22 tahun 1995 ditetapkan bahwa karya seni hukmnya mubah (boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkan fasad (kerusakan), dlarar (bahaya), isyyan (kedurhakaan) dan ba’id’anillah (terjauhnya dari Allah; maka pengembangan kehidupan seni harus sejalan dengan etika atau norma- norma Islam sebagaimana dituntunkan tarjih tersebut.

Begitupulah seni rupa, seni suara, seni sastra, dan seni pertunjukan pada dasarnya mubah (boleh) serta menjadi haram (terlarang) manakala membawa kemusyrikan dan melanggar norma agama Islam.

Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati seni dan budaya selain dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan juga menjadikan seni budaya sebagai sarana dakwah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Adapun dasar Muhammadiyah dalam bidang ini adalah merujuk pada firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ar Rum: 30.


TOKOH PENDIRI MUHAMMADIYAH dan IDE-IDE PEMIKIRANNYA

25 Nov

LATAR BELAKANG

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

 

  1. KH. Ahmad Dahlan

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Ishaq

Maulana ‘Ainul Yaqin

Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen)

Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom)

Demang Djurung Djuru Sapisan

Demang Djurung Djuru Kapindo

Kiyai Ilyas

Kiyai Murtadla

KH. Muhammad Sulaiman

KH. Abu Bakar

Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan)

Muhammadiyah didirikan oleh seorang bernama Muhammad Darwis, atau lebih kita kenal dengan nama Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan lahir di kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 M. Ayahnya bernama K.H Abubakar, seorang khatib Masjid Gedhe kesultanan Yogyakarta. Ibunya bernama Siti Aminah, putri penghulu kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah(Yunus Salam, 1968: 6):

Muhammmad Darwis tidak sekolah, melainkan belajar mengaji Al-Qur’an dan Dasar-dasar ilmu agama Islam pada ayahnya sendiri. Pada usia delapan tahun ia telah lancar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Selanjutnya ia belajar fiqh kepada K.H Moh. Saleh, dan Nahwu kepada K.H Muhsin, keduanya adalah kakak ipar Darwis. Ia juga berguru pada K.H Muh Nur dan K.H Abd.Hamid dalam berbagai ilmu.

Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia juga belajar kepada K.H Mahfud Termas, K.H Nahrowi Banyumas, K.H Muh Nawawi Banten dan juga kepada para ulama Arab di Masjidil Haram. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Ia juga mendatangi ulama madzab Syafi’i Bakhri Syata’ dan mendapat nama Haji Ahmad Dahlan dari beliau.

Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.  Haji Ahmad Dahlan pulang pada tahun 1891. Sepulangnya dari haji ia dipercaya mengajar santri dewasa sehingga ia dipanggil KH. Ahmad Dahlan. Pada tahun 1896 M, KH, Abubakar wafat jabatan dilimpahkan kepada KH. Ahmad Dahlan dengan gelar Khatib Amin , yang diberi tugas :

  1. Khutbah Jum’ah saling berganti dengan kawannyan delapan orang Khtib
  2. Piket di serambi masjid dengan kawannya enam orang sekali seminggu
  3. Menjadi anggota Raad Agama Islam Hukum Keraton

Usaha pertama yang dilakukan Khatib Amin dalam dakwahnya yaitu beliau ingin menerangkan arah kiblat shalat yang sebenarnya, usaha-usaha awalnya dirintis dengan penyebaran informasi kepada para ulama trerbatas yang telah sepaham di sekitar Kauman itupun memakan waktu hampir setahun. Kemudian hendak mengundang 17 ulama dari luar Yogyakarta untuk memusyawarahkan soal arah kiblat shalat di surau Kkatib Amin KHA. Dahlan mereka dimimta membawa kitab tentan arah kiblat. Musyawarah tersebut berlangsung pada tahun1898 meskipun tidak didapatkan kesepakatan pendapat itu sudah dianggap ada kemajuan positif karena jalannya musyawarah berjalan sopan dan tidak gaduh. Tahun 1898 selam tiga bulan Khatib Amin merenovasi dan memperluas surau peninggalan ayahnya dengan sekaligus dihadapakan ke arah kiblat. Namun banyak orang tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Khatib Amin sehingga surau yang baru diluas dan direnovasi dirobohkan oleh sepuluh orang utusan Kyai Penghulu. Setelah tiga tahun peristiwa tersebut, Khatib Amin tetap menekuni pekerjaan dinasnya maupun mengajar murid-muridnya di surau barunya.

Pada Tahun 1889, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Merasa ilmunya masih kurang Khatib Amin berangkat haji untuk kedua kalinya (1902-1904) yang direkayasa oleh pemerintahan kesultanan. Masalah kiblat masjid besar dan pembongkaran surau Khatib Amin itu merupakan manifestasi pertentangan antara faham islam tradisional dan faham pembaharuan dalam islam. Untuk menghindari ketegangan pemerintah kesultanan mengirim Khatib Amin ke Mekkah selama dua tahun. Ia studi lanjut tentang berbagai ilmu islam kepada para gurunya sewaktu haji pertama dulu, juga kepada yang lain. Dalam hal ini beliau belajar ilmu fikih kepada Syekh Saleh Bafedal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’id Bagusyel ilmu hadist kepada mufti Syafii ilmu Falak kepada Kyai Asy’ari Bawean dan ilmu qiraat kepada Syekh Ali Misri Mekkah. Kecuali itu juga bersahabat akrab dengan para ulama Indonesia yang lama bermukim disana seperti Syeh Ahmad Khatib (Minangkabau), Kyai Nawawi (Banten), Kyai Mas Abdullah (Surabaya), KH.Fakih (Maskumambang) berbagai maslah sosila keagamaan dialami di tanah air dijadikan topic diskusi mereka.

Sepulang dari haji yang kedua ini KHA. Dahlan membangun pondok untuk menampung murid-muridnya yang berasal dari luar kota Yogyakarta dan kota-kota di Jawa Tengah. Para muridnya diberi ilmu falak, tauhid dan tafsir dari Mesir.

 

Memperluas Wawasan

Pekerjaan KHA. Dahlan sebagai Khatib Masjid Besar tidak banyak menyita waktu. Giliran berkhutbahnya rata-rata dua bulan sekali dan piketnya di Serambi Masjid Besar itu hanya seminggu sekali. Karena banyak waktu luang ia gunakan untuk berdagang batik ke kota-kota di Jawa dan diberi modal orang tuanya sebanyak F.500,- namun sebagian uangnya digunakan untuk membeli kitab-kitab islam. Dalam perjalanan dagang ia selalu memerlukan singgah silahturahmi kepada alim setempat, membicarakan perihal agama islam dan masyarakatnya.

Pada tahun 1909 KHA. Dahlan bertamu ke rumah Dr. Wahidin Sudirohusodo di Ketandan, Yogyakarta. Ia menanyakan berbagai hal tentang Budi Utomo dan tujuannya. Setelah mendengar jawaban lengkap dan menurut pikirannya secara umum sesuai dengan cita-citanya, maka ia menyatakan ingin menjadi anggota. Dalam organisasi ini KHA. Dahlan dimohon untuk memberikan santapan rohani islam pada setiap akhir rapat pengurus.

Pada tahun 1910 ia pun menjadi anggota ke 770 perkumpulan Jami’at Khair Jakarta. Yang menarik hatinya selain perkumpulan ini “membangun sekolah-sekolah agama dan bahasa arab serta bergerak dalam bidang social, juga sangat giat membina hubungan dengan pemimpin-pemimpin di Negara-negara Islam yang telah maju. Arti penting KHA. Dahlan memasuki Jami’at Khair ini karena “ialah yang memulai organisasi dengan bentuk modern dalam masyarakat islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat yang berkala), dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah modern.

Ia menyadari bahwa usaha perbaikan masyarakat itu tidak mudah jika dilaksanakan sendirian  jadi harus berorganisasi dan bekerja sama dengan orang lain. Selain di Budi Utomo KHA. Dahlan berkinginan untuk mengajar di Kweekschool Gubernamen Jetis yang dikepalai oleh R. Boediharjo yang juga pengurus dari Budi Utomo. Ia mengajar setiap sabtu sore dengan metode induktif, ilmiah, naqliah dan Tanya jawab dan ternyata sangat menarik minat murid-muri di sana. Dengan pengalaman mengajar di Kweekschoolselam setahun ia terdorong untuk mendirikan sekolah di rumahnya dengan peralatan seadanya. Mula-mula mendapatkan delapan orang murid dan setiap bulan bertambah tiga orang. Pada awal bulan keenam muridnya menjadi duapuluh orang, ia sendiri yang menjadi guru agamanya mengajar pada waktu pagi. Setelah mendapat bantuan guru dari pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta untuk mengajarkan ilmu-ilmu sekolah biasa sekolah tersebut masuk siang pukul 14.00 sampai pukul 16.00. Sejak itu muridnya bertambah sehingga kelasnya harus dipindah ke serambi rumah yang lebih luas. Pada tanggal 1 Desember 1911 sekolah tersebut diresmikan dengan nama Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah berdirinya sekolah tersebut mendapat reaksi kersa dari masyarakat namun KHA. Dahlan hanya membalas dengan senyuman.

Sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya, ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri, yaitu :

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

 

  1. Ide-ide Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Pada tahun 1912 K.H Ahmad Dahlan memutuskan untuk mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Ia bermaksud agar gagasan dan pokok-pokok pikiran beliau dapat diwujudkan melalui persyarikatan yang beliau dirikan. Beliau menyadari bahwa gagasan dan pokok-pokok pikiran itu tidak mungkin dapat diwujudkan oleh orang seorang secara sendiri-sendiri termasuk oleh beliau sendiri, tetapi harus oleh sekelompok orang yang menyetujui gagasan dan pokok-pokok pikiran beliau untuk membentuk sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah. Atas dasar ini dapat difahami, kalau apa yang semula merupakan gagasan dan pokok-pokok pikiran pribadi K.H. A.Dahlan itu dikemudian diintegrasikan menjadi gagasan dan pokok-pokok pikiran Muhammadiyah.

Dia memulai oganisasi dengan bentuk modern dengan masyarakat islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala), dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara banyak sedikitnya modern.(Deliar Noer: op.cit). Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa usaha perbaikan masyarakat itu tidak mudah jika dilaksanakan sendrian. Jadi harus berorganisasi bekerjasama dengan orang banyak. Usaha pendidikan itu pada suatu ketika setelah selesai memyampaikan santapan rohani pada rapat pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta, ia menyampaikan keinginan mengajarkan agama islam kepada para siswa Kweekschool Gubernamen Jetis yang dikepalai oleh R.Boediharjo, yang juga menjadin anggota pengurus Budi Utomo. Dan hal ini disetujui, asal diluar pelajaran resmi. (Sosrosugondo, KHA.Dahlan, bapak dan pendiri muhammadiyah, Bag.III Adil No.5o,1939) Pelaksanaanya pada setiap sabtu sore dengan metode induktif, ilmiah, naqliah dan tanya jawab. Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis.

Sesuai dengan pendirin dan sikap K.H A.Dahlan yang lebih suka mewujudkan gagasan dan pokok-pokok pikirannya melalui tindakan nyata daripada melalui pembicaraan dan tulisan, maka pada awal perjalanannya, Muhammadiyah sangat miskin dengan rumusan formal mengenai apa yang menjai gagasan dan pokok-pokok pikiranyang ingin diperjuangkan dan diwujudkan. Rumusan formal yang ada barangkali hanya dijumpai pada Anggaran Dasar atau Statuta Muhammadiyah.

Pada proses perjalanannya, setelah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik secara vertical maupun horizontal, dengan permasalahan dan tantangan yang semakin bertambah berat dan kompleks, maka dirasa perlu pelembagaan gagasan dan pokok-pokok pikiran itu dalam rumusan formal, yang dihasilkan melalui forum-forum permusyawaratan yang bersifat legislasi, seperti Muktamar dan Tanwir.

Secara garis besar, pokok pokok pikiran formal itu dapat dikelompokkan menjadi dua jenis pokok pikiran, yaitu pokok pikiran yang bersifat ideologis dan strategis.

  1. Pokok Pikiran yang bersifat Ideologis

Pokok pokok pikiran yang dapat dikategorikan sebagai pokok pikiran yang bersifat Ideologis, antara lain:

1)      Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah(1951)

2)      Kepribadian Muhammadiyah(1961)

3)      Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah(1969), dan

4)      Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah(2000).

Keempat pokok pikiran yang bersifat Ideologis ini adalah sumber dari prinsip ajaran Islam. Oleh karena itu substansinya bersifat tetap dan tidak berubah. Yang perlu barangkali, adalah melakukan pembaharuan maknanya, sehingga substansi pokok pikkiran itu tetap relevan dan komunikatif sepanjang waktu tanpa mengubah, merevisi, atau mengganti nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya.

 

Pokok Pikiran yang bersifat Strategis

Pokok pokok pikiran yang dapat dikategorikan sebagai pokok pikiran yang bersifat Strategis,adalah berupa Khittah Perjuangan Muhammadiyah,  antara lain:

1)      Langkah Muhammadiyah(1938-1940)

2)      Khittah Muhammadiyah(Khittah Palembang)th 1956-1959

3)      Khittah Ponorogo(1969), Surabaya(1978), dan Ujung Pandang(1971)

4)      Khittah Muhammadiyah dalam berbangsa dan bernegara(2002)

Pokok pokok pikiranyang bersifat strategis yang dalam tradisi Persyarikatan disebut Khitah Perjuangan, ia bersifat dinamis. Artinya Khittah Perjuangan itu dapat diubah, sesuai dengan terjadinya perubahan situasidan kondisi yang dihadapi Muhammadi

 

KESIMPULAN

Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.

Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan mulai disosialisasikan ketika menjabat khatib di Masjid Agung Kesultanan. Salah satunya adalah menggarisi lantai Masjid Besar dengan penggaris miring 241/2 derajat ke Utara.

Ketika berusia empat puluh tahun, 1909, Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah: ia memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui per­kumpulan ini, Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya.

Gerakan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan, yang berbeda dengan masyarakat zamannya mempunai landasan yang kuat, baik dari keilmuan maupun keyakinan Qur’aniyyah guna meluruskan tatanan perilaku keagamaan yang berlandaskan pada sumber aslinya, Al-Qur’an dengan penafsiran yang sesuai dengan akal sehat. Berangkat dari semangat ini, ia menolak taqlid dan mulai tahun 1910 M. penolakannya terhadap taqlid semakin jelas. Akan tetapi ia tidak menyalurkan ide-idenya secara tertulis.

Pada tanggal 1 Desember 1911 M. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah Sekolah Dasar di lingkungan Keraton Yogyakarta. Di sekolah ini, pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem pendidikan gubernemen. Sekolah ini barangkali merupakan Sekolah Islam Swasta pertama yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah.
Sumbangan terbesarnya K.H. Ahmad Dahlan, yaitu pada tanggal 18 November 1912 M. mendirikan organisasi sosial keagamaan bersama temannya dari Kauman, seperti Haji Sujak, Haji Fachruddin, haji Tamim, Haji Hisyam, Haji syarkawi, dan Haji Abdul Gani.
Sementara itu, usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:

  • Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
  • Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Drs. H. Hamdan Hambali. 2006. IDEOLOGI DAN STRATEGI MUHAMMADIYAH. Yogyakarta. Suara Muhammadiyah
  2. www.muhammadiyah.go.id

Musthafa Kamal Pasha.2003.Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta. LPPI

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM di INDONESIA

10 Nov

LATAR BELAKANG GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM di INDONESIA

 

Pada abad ke XIII M agama Islam mulai masuk ke Indonesia, dan ada yang berpendapat bahwa penyebaran Islam pertama kali dilakukan oleh para pedagang dan mubaligh dari Gujarat-India. Sekarang jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang paling besar dibandingkan umat Islam di negara-negara lain di dunia ini oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa umat Islam di Indonesia mempunyai peranan yang penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara Islam lainnya. Lebih-lebih di Indonesia sendiri, umat Islam merupakan mayoritas penduduk dan mereka bertebaran di segenap pelosok tanah air serta banyak yang berkumpul dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan politik.

Semenjak datangnya Islam di Indonesia yang disiarkan oleh para mubaligh khususnya di Jawa oleh Wali Sanga atau Sembilan Wali Allah hingga berabad-abad kemudian, masyarakat sangat dijiwai oleh keyakinan agama, khususnya Islam. Sejarah telah mencatat pula, bahwa Islam yang datang di Indonesia ini sebagiannya dibawa dari India, dimana Islam tidak lepas dari pengaruh Hindu. Campurnya Islam dengan elemen-elemen Hindu menambah mudah tersiarnya agama itu di kalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, karena sudah lama kenal akan ajaran-ajaran Hindu itu.

Sebagian besar tersiarnya Islam di Indonesia adalah hasil pekerjaan dari Kaum Sufi dan Mistik. Sesungguhnya adalah Sufisme dan Mistisisme Islam, bukannya ortodoksi Islam yang meluaskan pengaruhnya di Jawa dan sebagian Sumatera. Golongan Sufi dan Mistik ini dalam berbagai segi toleran terhadap adat kebiasaan yang hidup dan berjalan di tempat itu, yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan ajaran-ajaran tauhid.

Sebelumnya, masyarakat sangat kuat berpegang teguh pada Agama Hindu dan Budha. Setelah kedatangan Islam, mereka banyak berpindah agama secara sukarela. Tetapi sementara itu mereka masih membiasakan diri dengan adat kebiasaan lam, sehingga bercampur-baur antara adat kebiasaan Hindu-Budha dengan ajaran Islam. Hal tersebut berlangsung dari abad ke abad, sehingga sulit dipisahkan antara ajaran Islam yang murni dengan tradisi peninggalan Hindu atau peninggalan agama Budha. Dan tidak sedikit tradisi lama berubah menjadi seakan-akan “Tradisi Islam”. Seperti kebiasaan menyelamati orang yang telah mati pada hari ke:7, 40, 1 tahun dan ke 1000-nya serta selamatan pada bulan ke-7 bagi orang yang sedang hamil pertama kali, mengkeramatkan kubur seseorang, meyakini benda-benda bertuah dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AWAL KELAHIRAN GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM di INDONESIA

 

Melihat keadaan di lapangan bahwa pengamalan agama Islam di Indonesia yang masih banyak bercampur dengan tradisi Hindu-Budha tersebut dan jelas sekali merusak kemurnian ajarannya, maka tampillah beberapa ulama mengadakan pemurnian dan pembaharuan faham keagamaan dalam Islam. Pada mulanya lahir Gerakan Padri di daerah Minangkabau yang dipelopori oleh Malim Basa, pendiri perguruan di Bonjol, yang kemudian dikenal dengan sebutan Imam Bonjol. Sejak kembali dari Mekah, Imam Bonjol melancarkan pemurnian aqidah Islam seperti yang telah dilakukan oleh gerakan Wahabi di Mekah. Karena kaum tua yang masih sangat kuat berpegang teguh pada adat menentang dengan keras terhadap gerakan Imam Bonjol maka timbulah perang Padri yang berlangsung antara tahun 1821-1837.

Pemerintahan Kolonial Belanda, sesuai dengan politik induknya “Devide et empera” akhirnya membantu kaum adat untuk bersama-sama menumpas kaum pembaharu. Sungguh pun kaum militer Padri dapat dikalahkan, tetapi semangat pemurnian Islam dan kader-kader pembaharu telah ditabur yang kemudian pada kenmudian hari banyak meneruskan usaha dan perjuangan mereka. Diantaranya, Syekh Tohir Jalaludin, setelah kembali dari Mekah dan Mesir bersama-sama dengan Al Khalili mengembangkan semangat pemurnian Agama Islam dengan menerbitkan majalah Al Imam di Singapura.

Pada saat itu juga, di Jakarta berdiri Jami’atul Khair pada tahun 1905, yang pada umumnya beraggotakan peranakan Arab. Organisasi Jami’atul Khair ini dinilai sangat penting karena dalam kenyataanya dialah yang memulai dalam bentuk organisasi dengan bentuk modern dalam masyarakat Islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala) dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah modern. Di bawah pimpinan Syekh Ahmad Soorkati, Jami’atul Khair banyak mengadakan pembaharuan dalam bidang pengajaran bahasa Arab, pendidikan Agama Islam, penyiaran agama, dan banyak berusaha mewujudkan Ukhuwah Islam.

Sementara itu, banyak tumbuh dan lahir gerakan pembaharuan dan pemurnian Agama Islam di beberapa tempat di Indonesia, yang satu sama lain mempunyai penonjolan perjuangan dan sifat yang berbeda-beda. Akan tetapi, secara keseluruhan mereka mempunyai cita-cita yang sama dan tunggal yaitu “Izzul Islam wal Muslimin” atau kejayaan Agama Islam dan Kaum Muslimin. Di antara gerakan-gerakan tersebut adalah: Partai Sarekat Islam Indonesia, Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad.

Gerakan-gerakan tersebut, umumnya terbagi dalam dua golongan yaitu Gerakan Modernis dan Gerakan Reformis. Yang dimaksud dengan Gerakan Modernis ialah gerakan yang menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya. Jadi semua Gerakan Islam tersebut dapat digolongkan sebagai gerakan Modernis. Sedangkan Gerakan Reformis, berarti di samping gerakan ini menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya, juga berusaha memurnikan Islam dan membangun kembali Islam dengan pikiran-pikiran baru, sehingga Islam dapat mengarahkan dan membimbing umat manusia dalam kehidupan mereka. Misalnya: Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad.

 

 

 

 

 

 

 

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM

 

A.     GERAKAN POLITIK ISLAM

1.     PARTAI SAREKAT ISLAM INDONESIA

Sebelum menjadi Sarekat Islam, pada mulanya berasal organisasi dagang yang bernama Sarekat Dagang Islam. Didirikan pada 1911 oleh seorang pengusaha batik terkenal di Sala, yaitu Haji Samanhudi. Anggota-anggotanya terbatas pada para pengusaha dan pedagang batik, sebagai usaha untuk membela kepentingan mereka dari tekanan politik Belanda dan monopoli bahan-bahan batik oleh para pedagang Cina. Kemudian akibat pelarangan terhadap Sarekat Dagang Islam oleh Residen Surakarta, maka pada 1912 kedudukannya dipindah ke Surabaya dan namanya pun berganti menjadi Sarekat Islam.

Sarekat Islam dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Dan dibawah kepemimpinannya Sarekat Islam berkembang mewnjadi sebagai organisasi besar dasn berpengaruh, anggota-anggotanya semakin Banyak dan meliputi  seluruh lapisan masyarakat dan cabang-cabangnya berdiri dimana-mana. Tujuannya diperluas, tidak saja urusan dagang dan perekonomiannya, melainkan lebih luas dan besar yaitu: menentang politik kolonial Belandadalam segala seginya dengan menggunakan dasar perjuangan islam. Dengan tujuan tersebut akhirnya Sarekat Islam memasuki bidang politik dan menginginkan suatu pemerintahan yang bebas dari penjajahan Belanda.

Karena Sarekat Islam diselundupi oleh orang-orang komunis yang tergabung dalam organisasi Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) pimpinan Sneevliet, seorang kader komunis yg berasal dari negeri Belanda, akhirnya tak dapat mengelakkan diri dari perpecacahan, dan menjadilah SI Putih SI Merah yang beraliran komunis . Sarekat Islam Putih kemudian meningkatkan diri menjadi satu organisasi politik Partai Sarekat Islam Indonesia yang diresmikan pada tahun 1929.

2.     PARTAI ISLAM MASJUMI

Partai Islam Masjumi berdiri pada tanggal 7 November 1945 sebagai hasil keputusan Muktamar Umat Islam Indonesia I yang berlangsung di Yogyakarta (Gedung Madrasah Mualimin Muhammadiyah) pada tanggal 7-8 November 1945. Kongres ini dihadiri oleh hampir semua tokoh dari berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta pada masa pendudukan Jepang, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam, al-Wasliyah, Persis, al-Irsyad, serta tokoh intelektual muslim yang pada zaman Belanda aktif dalam Jong Islamiten Bond dan Islam Study Club dan sebagainya. Dalam kongres tersebut disepakati dan diputuskan untuk mendirikan Majlis Syura Pusat bagi umat Islam Indonesia.

Sesungguhnya Partai Masjumi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan politik organisasi Islam pada akhir zaman penjajah Belanda yang dikenal dengan nama MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia). MIAI adalah suatu wadah federasi dari semua organisasi Islam, baik yang bergerak dalam bidang politik praktis maupun yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan yang didirikan pada tanggal 21 September 1937 di Surabaya atas inisiatif KH Mas Masyur (Muhammadiyah), KH Wahab Hasbullah (NU), dan Wondo Amiseno (Sarekat Islam). Kemudian pada masa pendudukan Jepang gabungan gerakan Islam yang juga bersifat federasi semacam MIAI ini dinamakan Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masjumi).

Partai Masjumi yang mencanangkan tujuannya dengan rumusan “Terlaksananya syari’at Islam dalam kehidupan orang-seorang, masyarakat, dan Negara Republik Indonesia” dalam kiprah politiknya sepanjang masa hidupnya, baik dalam bentuk program maupun kebijakan-kebijakan partai menampakan sikap yang tegar, istiqomah, konsisten terhadap prinsip-prinsip Islam yang bersumber pada Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Politik yang dianut oleh Partai Masjumi adalah politik yang menggunakan parameter Islam, artinya bahwa semua program atau kebijakan partai harus terukur secara pasti dengan nilai-nilai Islam. Ungkapan bahwa politik itu kotor, menurut keyakinan Partai Masjumi tidak mungki  terjadi manakala sikap, langkah, dan pola perjuangannya selalu berada di atas prinsip-prinsip ajaran Islam. Masjumi mengakui terhadap realitas yang terjadi di tengah-tengah arena politik bahwa politik itu memang kotor, kalau politik itu didasarkan pada “politik bebas nilai” atau politik yang diajarkan oleh Nicollo Machiavelli bahwa “tujuan menghalalkan semua cara”. Politik Islam sebagaimana yang dianut oleh Partai masjumi adalah politik yang mengharamkan tujuan yang ditempuh dengan semua cara. Islam mengajarkan bahwa “Tujuan yang baik harus dicapai dengan cara-cara yang baik pula”.

Pada tanggal 15 Desember 1955 diadakan Pemilu, Partai Masjumi mendapatka 57 kursi di pemerintahan. Akan tetapi karena Bung Karno termakan oleh bujukan dari Komunis sehingga pada tanggal 17 Agustus 1960 mengeluarka Surat Keputusan (SK) Presiden Nomor 200 tahun 1960 untuk membubarkan Partai Islam Masjumi dari pusat sampai ranting di seluruh wilayah NKRI. Pada tanggal 13 September 1960 DPP Masjumi membubarkan Masjumi dari pusat sampai ke ranting-rantingnya.

 

B.     GERAKAN SOSIAL KEMASYARAKATAN ISLAM

Merupakan gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar yang dalam ajarannya konsisten berpegang pada :

    1. Kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara murni.
    2. Membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya kepada siapa pun yang telah berhak melakukannya.
    3. Mengamalkan ajaran Islam secara konsisten, bersih dari segala kemusyrikan, khurafat, bid’ah, dan taqlid

Contoh: Gerakan Al Islah wal Irsyad, Persatuan Islam dan Muhammadiyah

1.     MUHAMMADIYAH

Sejak tahun 1905, Kyai Haji Ahmad Dahlan telah banyak melakukan dakhwah dan pengajian-pengajian yang berisi faham baru dalam islam dan menitik beratkan pada segi alamiyah. Baginya, Islama adalah agama amal, suatau agama yang mendorong umatnya untuk banyak melakukan kerja dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Dengan bekal pendalaman beliau terhadap Al- Qura’an dan sunannah Nabi, sampai pada pendirian dan tindakana yang banyak bersifat pengalaman Islam dalam kehidupan nyata.

Dari kajian – kajian Kyai Haji Ahmad Dahlan ,akhirnya timbul pertanyaan kenapa banyak gerakan-gerakan islamyang tidak berhasil dalam usahanya? Hal ini tidak lain di sebabkan banyak orang yang bergerak dan berjuang tetapi tidak berilmu luas serta sebaliknya banyak orang yang berilmu akan tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya.

Atas dasar keyakinannya itulah, Kyai Haji Ahmad Dahlan ,pada tahun 1991 mendirikan “sekolah Muhammadiyah” yang menempati sebuah ruangan dengan meja dan papan tulis. Dalam sekolah tersebut, di masukkan pula beberapa pelajaran yang lazim di ajarkan di sekolah-sekolah model Barat, seperti Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Ilmu Hayat dan sebagainya. Begitu pul;a di perkenalkan cara-cara baru dalam pengajaran ilmu-ilmu keagamaan sehingga lebih menarik dan lebih menyerap. Dengan murid yang tidak begitu banyak,jadilah sekolah Muhammadiyah tersebut sebagai tempat persemaian bibit-bibit pembaruan dalam Islam Indonesia.

Dan sebagai puncaknya berdirilah gerakan Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 yang bertepatana dengan tanggal 18 November 1992, yang di dalam Anggaran Dasarnya yang pertama kali bertujuan: “ Menyebarkan Pengajarn Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumi putera,di dalam residensi yogyakarta” serta “ Memajukan hal agama Islam kepada sekutu-sekutunya.

2.     AL-IRSYAD

Dalam jami’at khair, timbul suatu perbedaan pendapat yang cukup tajam, terutama persoalan “kafa’ah”, yaitu sah tdaknya golongan Arab keturunan Sayid (keluarga Nabi) kawin dengan golongan lainnya. Dalam hal ini Syeh Sukarti berpendapat boleh,dan tetap kufu atau seimbang. Ia mengemukakan alasan dengan ayat Al-Qur’an bahwa: “yang paling mulia diantara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa” (Al Hujarat 13). Selain itu terdapat banyak bukti bahwa para sahabat kawin satu sama lain tanpa memandang keturunan Sayyid atau tidaknya. Ternyata pendapat ini menimbulkan ketidaksenangan golongan Arab seketurunan dengan Syaidina Ali, keluarga Nabi, dan berakhir dengan perpecahan. Kemudian Syekh Ahmad Sukati pada tahun 1914 mendirikan perkumpulan Al Ishlah Wal Irsyad. Maksudnya ialah memajukan pelajaran agama Islam yang murni di kalangan bangsa Arab di Indonesia. Dan sebagai amaliyahnya berdirilah beberapa perguruan Al-Irsyad di mana-mana, di antaranya pada tahun 1915 di jakarta. Selain itu banyak bergerak dalam bidang sosial dan dakwah Islam dengan dasar Al-Qur’an dan sunnah Rosul secara murni dan konsekuen.

3.     PERSATUAN ISLAM

Persatuan Islam (Persis) didirikan di Bandung pada 17 September 1923 oleh K.H. Zamzam, seorang ulama berasal dari Palembang. Persis beeertujuan mengembalikan kaum muslimin kepada pimpinan AL-Qur’an dan sunnah Nabi dengan jalan mendirikan madrasah-madrasah, pesantren dan tabliqh pidato ataupun tulisan. Selain itu, menerbitkan pula majalah yang cukup menonjol pada zamannya, yaitu “Pembela Islam” dan majalah Al Muslimin.

Persis sangat menonjol dalam usahanya memberantas segala macam bid’ah dan khufarat , dengan cara-cara radikal dan tidak tanggung- tanggung. Lebih-lebih setelah Persis berda dalam kepemimpinan ustadz A. Hasan, yang terkenal tajam pena dan lidahnya menegakkan kemurnian agama, maka Persis semakin hari semakin bertambah luas dan berkembang. Diantara alumni pendidikan Persis yang terkemuka adalah M.Natsir, seorang tokoh cendikiawan dan pemimpin Islam Indonesia yang juga pernah menjadi Perdana Menteri RI dan menduduki jabatan-jabatan penting dalam Lembaga Islam International.

GERAKAN PEMBAHARUAN di DUNIA ISLAM

10 Nov

A.   Definisi Gerakan Pembaharuan

Gerakan pembaharuan Islam atau yang juga dikenal sebagai gerakan paham dan pemikiran Islam adalah gerakan yang dipelopori oleh ulama dan tokoh islam yang istimewa. Dalam arti luas pembaharuan Islam adalah membangkitkan kembali Islam yang murni sebagaimana pernah dipraktekkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kaum Salaf.

B.   Hal-hal Yang Mendasari Munculnya Gerakan Pembaharuan Islam

  1. Pengaruh negara-negara kafir
  2. Ketidak sejalannya pemikiran antar organisasi islam.
  3. Gaya hidup barat yang mulai ngetren di negara-negara Islam.
  4. Hasrat untuk memperoleh kekuasaan diantara segmen tertentu yang mengatas namakan Islam.
  5. Rendahnya tingkat pendidikan.
  6. Ekonomi yang semakin terpuruk.
  7. Budaya yang menyimpang dari Al Quran dan hadist.
  8. Kekeliruan akidah
  9. Syirik dan bid’ah
  10. Membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah.

C.    Macam-Macam Gerakan Pembaharuan Islam Dan Sejarahnya.

Gerakan Islam pertama adalah gerakan yang dirintis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di wilayah Hijaz. Gerakan ini merupakan gerakan salafiyah dan pembaruan. Memurnikan aqidah dari segala macam kesyirikan dan bid’ah yang telah menggerogoti umat Islam pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah. Bersama dengan Pangeran Muhammad bin Saud, beliau melakukan da’wah dan mulai memasuki fase jihad dan kekuatan dalam berda’wah.

Kedua, gerakan Islam yang dilakukan Syaikh Muhammad As Sirhindi di negeri India. Beliau hidup pada masa Raja Jalaluddin Muhammad Akbar, seorang raja dengan aqidah menyimpang yang terpengaruh paham filsafat yang menyatakan bahwa Islam hanya bertahan seribu tahun, setelah itu akan usang. Maka, raja ini memerintahkan untuk menyembah bintang dan matahari kepada rakyatnya, dan mengganti ajaran kiamat dengan ajaran reinkarnasi, serta menghalalkan riba, judi, minuman keras, babi dan zina. Ia kemudian malah mengharamkan menyembelih sapi dan hijab.

Ketiga, gerakan Islam di Sudan. Gerakan ini dimulai dari gerakan sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan jihad yang kemudian memasuki wilayah politik. Mereka menjadi oposisi dari pemerintahan Numairi di bawah organisasi Jabhah Al Mitsaq Al Islami yang dipimpin Dr. Hasan At Turabi, hingga akhirnya pemerintah mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Dengan perjanjian damai ini, kader-kader da’wah meraih posisi jabatan pemerintahan, legislatif, dan kementarian melalui Partai Al Ittihad Al Isytiraki Al Sudani.

Keempat, gerakan Islam di Yordania. Gerakan ini mampu bekerjasama dengan pemerintah Yordania meskipun bukan pemerintahan islami. Keterlibatan gerakan Islam dalam politik praktis dimulai ketika Raja Husain memutuskan untuk memulai kehidupan politik demokratis, tahun 1989, untuk memilih anggota dewan perwakilan rakyat. Mereka berhasil memperoleh dua puluh kursi dewan dari delapan puluh kursi parlemen. Yang lebih penting dari keterlibatan gerakan Islam di dalam perpolitikan Yordania melalui Hizb Al Amal Islami adalah melakukan eskperimen gerakan da’wah dalam keterlibatannya dalam pemerintahan non-islami. Berupaya memberikan keseimbangan kebijakan politis negara dalam menghadapi permasalahan global seperti Palestina, Afghanistan, Bosnia-Hersigovina, dan lainnya, serta mendukung program-program pembangunan umat di dalam negeri.

Kelima, gerakan Islam di Yaman. Gerakan ini dilakukan oleh At Tajammu’ Al Yamani li Al Ishlah, kemudian berganti menjadi At Tajammu wal Ishlah. Setelah unifikasi Yaman Utara dan Yaman Selatan yang dikuasai komunis, gerakan Islam turut berperan dalam pembentukan hukum-hukum legislasi Islam. Gerakan ini sangat menaruh perhatian dalam dunia pendidikan. Mereka menyusun kurikulum pendidikan di semua levelnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka membentuk Maktab At Taujih wa Al Irsyad yang setingkat dengan kementerian negara. Badan ini dipimpin berturut-turut oleh Dr. Abdul Majid Az Zindani dan Qadhi Yahya Al Fasil.

Keenam, gerakan Islam di Turki. Gerakan Islam di Turki muncul dalam bentuk partai politik. Mereka timbul dan tenggelam karena tekanan kalangan sekulerisme dan militer yang khawatir dengan kebangkitan Islam di Turki. Berkali-kali ganti nama, gerakan Islam pada tahun-tahun belakangan ini mampu menempatkan kadernya sebagai presiden Turki. Dan sedikit-demi sedikit mengurai simpul sekulerisme yang diusung Musthafa Kamal sejak keruntuhan Khilafah Islam terakhir.

Pengalaman dan perjuangan gerakan Islam di berbagai tempat ini seharusnya menjadikan kita bersemangat untuk mewujudkan pemerintahan yang islami yang berkeadilan dan diridhai Allah melalui gerakan da’wah dimana kita berkomitmen di dalamnya.

Berikut ini adalah contoh gerakan pembaharuan islam yang popular saat ini, antara lain:

1.      Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir didirikan dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT :

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (Q. S. Ali Imran: 104)

Gerakan ini didirikan Oleh Syaikh Taqiyuddin Nabhani (1909 – 1979 M) pada tahun 1952 M/1372 H. Dengan konsentrasi penuh ia memimpin partai, menerbitkan buku dan brosur-brosur yang secara keseluruhan merupakan sumber pengetahuan pokok partai. Dia hidup berpindah-pindah antara Yordania, Suriah dan libanon. Ia kemudian wafat dan dimakamkan di Beirut.

Sepeninggal Nabhani, Hizbut tahrir dipimpin oleh Abdul Qadim Zallum, seorang penulis buku Hakadza Hudimat al-Khilafah.Tokoh Hizbut Tahrir lainnya ialah Abdurrahman Maliki dari Suriah, salah seorang tokoh dewan pimpinan partai dan penulis buku al-’Uqubat. Ir. Abdulghani Jabir Sulaiman, Dr. Shalahuddin Muhammad Hasan yang keduanya tinggal di Australia yang bekerja sebagai seorang doktor elektro keturunan Palestina yang dijuluki Abu Lihyah dan ‘Alauddi Abdulwahhab Hajjaj.

Tujuan utama berdirinya gerakan ini adalah:

a)      Melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

b)      Membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang.

c)      Untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan keemasannya seperti dulu.

d)     Mengambil alih kendali negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia ini.

e)      Mengenbalikan negara Khilafah menjadi negara nomor satu di dunia serta memimpin dunia sesuai dengan hukum-hukum Islam.

f)       Menyampaikan hidayah (petunjuk syari’at) bagi umat manusia.

g)      Memimpin umat Islam untuk menentang kekufuran beserta segala ide dan peraturan kufur, sehingga Islam dapat menyelimuti bumi.

2.      Wahabi

Gerakan ini muncul di Arab Saudi pada abad ke-18 dan dipelopori oleh marga Saud. Gerakan ini berhasil menaklukkan Mekkah dan Madinah pada tahun 1803-1804. Namun pasukan Kekhalifahan Utsmaniyah berhasil memukul mundur Wahabi dari Madinah pada 1812 dan Mekah pada 1813. Inti dari ajaran Wahabi ini terutama adalah membenarkan penggunaan sarana kekerasan atau pemaksaan dalam dakwah, terutama dengan menafsir-ulang dan mengekstensifkan penggunaan terminologi ”jihad”. Meski dalam ajaran dakwahnya mereka senantiasa mengkhotbahkan diri sebagai jalan termurni Islam dengan ideologi salafiyahnya.

Pada saat itu wahabi mengupayakan berdirinya negara Wahabi ketiga bernama Arab Saudi atau Saudi Arabia. Sebagai catatan, Arab Saudi atau nama resminya al-Mamlaka al-’Arabiya as-Sa’udiya didirikan oleh klan atau wangsa Saud. Ibnu Saud sebagai pemimpin gerakan Wahabi menggerakkan pasukannya menentang Turki yang saat itu masih menguasai jazirah Arabia. Hasa dan Abdul Aziz ibnu Saud mendeklarasikan berdirinya kerajaan Arab Saudi (perhatikan kata Saudi yang jelas berasal dari nama Saud). Kerajaan ini baru berdiri pada 23 September 1932.

Jadi, wahabi mulai berkembang dan maju pada abad ke-19. Dalam dakwahnya gerakan Wahabi selalu mengklaim sebagai yang paling murni menjalankan ajaran agama dan mengkaitkannya dengan kaum salafi pertama yang hidup di masa Nabi s.a.w.

Tujuan didirikannya Gerakan Wahabi antara lain untuk:

a)      Menyingkirkan segala macam bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan kesyirikan lainnya.

b)      Secara politik untuk melepaskan bangsa Arab dari pengaruh bangsa Turki yang telah menjadi dinasti dalam waktu yang sangat panjang.

c)      Ingin membangun Negara Islam.

3.      Salafiyyah

Salaf, atau lengkapnya ahl al-salaf, adalah sebutan untuk generasi awal muslim yang terkait dengan masa Nabi Saw. sendiri. Salaf merupakan suatu pemikiran yang berbuah gerakan dalam pemurnian Islam yaitu Gerakan salafiyyah yang merupakan upaya dari muslim di masa sesudah Nabi Saw.. Pelopor gerakan salafiyyah adalah Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla. Serta ulama-ulama besar lainnya seperti, Ahmad B. Hanbal, Ibn Taimiyyah, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad B. Abdul Wahhab.

Berdirinya gerakan salafiyyah merupakan suatu aliran pemikiran yang kuat dalam mempertahankan pemahaman terhadap ajaran Islam berderaskan ajaran Islam tanpa toleransi. Aliran ini juga sering dikaitkan dengan pergerakan memerangi segala bentuk bid’ah dalam khurafat dalam masyarakat Islam.

4.      Syi’ah

Syi’ah yaitu sekelompok orang  yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Syi’ah muncul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.

Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.

5.      Jema’ah Tabligh

Jama’ah ini didirikan oleh Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi (1303-1364). Beserta syaikh yang lain antara lain, Syaikh Muhammad Yahya, seorang guru di Madrasah Mazhahir al-Ulum Saharnapur, Syaikh Rasyid Ahmad Kankuhi (1829-1905) yang dibai’at menjadi anggota jama’ah pada tahun 1315 H oleh Syaikh Muhammad Ilyas, Syaikh Abdurrahim Ra’i Fauri Syaikh Asraf Ali al-Tahanawi (1280-1364 H/1863-1943 M) yang bergelar Hakim Ummat, Syaikh Muhammad Hasan (1268-1339 H/1851-1920 M), salah seorang tokoh ulama Madrasah Deoband dan pemimpin Jama’ah Tabligh.

Jama’ah Tabligh adalah sebuah jama’ah Islamiyah yang dakwahnya berpijak kepada penyampaian (tabligh) tentang keutamaan-keutamaan ajaran Islam kepada setiap orang yang dapat dijangkau. Jama’ah ini menekankan kepada setiap pengikutnya agar meluangkan sebagian waktunya untuk menyampaikan dan menyebarkan dakwah dengan menjauhi bentuk-bentuk kepartaian dan masalah-masalah politik. Barangkali cara demikian lebih cocok mengingat kondisi ummat Islam di India yang merupakan minoritas dalam sebuah masyarakat besar.

Jama’ah Tabligh adalah jama’ah Islam yang sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Sedangkan thareqatnya Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Secara umum Jama’ah Tabligh adalah masih kelompok suni. Jama’ah ini banyak dipengaruhi ajaran tasawuf dan thareqat seperti thareqat Jusytiyyah di India. Mereka mempunyai pandangan khusus terhadap tokoh-tokoh tasawuf dalam masalah pendidikan dan pengarahan.

6.      Al-Ikhwan Al-Muslimun

Pendirinya adalah Syaikh Hasan al-Banna (1324 – 1368 H/1906 – 1949 M). Dzul Qa’idah 1327 H/April 1928 M adalah bulan didirikannya cikal bakal gerakan Al-Ikhwan al-Muslimun. Tahun 1932 Hasan al-Banna pindah ke Kairo. Pada awal berdirinya, tahun 1941 M, gerakan Ikhwan hanya beranggotakan 100 orang, hasil pilihan langsung ustadz Hasan al-Banna sendiri. Pada tanggal 12 Pebruari 1949 Hasan al-Banna terbunuh oleh pembunuh misterius. Tahun 1950 ustadz Hasan al-Hudhaibi (1306 -1393 H/1891 – 1973 M), terpilih menjadi Mursyid ‘Al-Mahdi Al-Ikhwan al-Muslimun. Ia adalah salah seorang tokoh kehakiman Mesir.

Al-Ikhwan al-Muslimun adalah sebuah gerakan Islam terbesar di zaman modern ini. Seruannya ialah kembali kepada Islam sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengajak kepada penerapan syari’at Islam dalam kehidupan nyata. Dengan tegar gerakan ini telah mampu membendung arus sekularisasi di dunia Arab dan Islam.

Selanjutnya Syaikh Hasan al-Banna mengatakan bahwa ciri gerakan Ikhwan dalah:

a)      Jauh dari sumber pertentangan.

b)      Jauh dari pengaruh riya dan kesombongan.

c)      Jauh dari partai politik dan lembaga-lembaga politik.

d)     Memperhatikan kaderisasi dan bertahap dalam melangkah.

e)      Lebih mengutamakan aspek aspek amaliyah produktif dari pada propaganda dan reklame.

f)       Memberi perhatian sangat serius kepada para pemuda.

g)      Cepat tersebar di kampung-kampung dan dikota-kota.

h)      Merupakan gerakan Rabbaniyyah.

i)        Bersifat ‘alamiyah (Internasional). Sebab arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia.

j)        Orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam.

Selanjutnya Syaikh Hasan al-Banna mengatakan tujuan gerakan Ikhwan dalah:

a)      Memperbaiki diri

b)      Menjadikan pribadi yang kuat fisik, teguh dlam berakhlak, luas dalam berfikir, mampu mencari nafkah, lurus berakidah dan benar dalam beribadah.

c)      Membentuk rumah tangga islami.

d)     Memotifasi masyarakat untuk menyebarkan kebaikan

e)      Memerangi kemungkaran dan kerusakan.

f)       Memperbaiki pemerintahan sehingga benar-benar menjadi pemerintahan yang islami.

g)      Mengembalikan kemerdekakan negera Islam dan menghidupkan kembali keagungannya.

h)      Menjadi guru dunia dengan menyebarkan Islam ke tengah-tengah umat manusia, sehingga tidak ada fitnah lagi dan Dien hanya benar-benar milik Allah.
“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan Nur (Dien)-Nya.” (Q.S. at-Taubah :32).

7.      Rabithah Alam Islami

Ini adalah organisasi Islam Internasional yang berdiri di Makkah pada tanggal 14 Zulhijjah 1381 H/Mei 1962 M. PBB  mengelompokkanya sebagai organisasi non pemerintah dan termasuk anggota Unesco serta anggota pengamat OKI (Organisasi Konprensi Islam).

Tujuannya berdirinya gerakan ini adalah:

a)      Menyampaikan dakwah dan ajaran Islam.

b)      Mengantisipasi pemikiran-pemikiran yang sesat.

c)      Menyatukan umat Islam.

d)     Membela dan memecahkan masalah-masalah umat Islam.